Biarkan kata-kata aneh terbentuk, hanya menuangkan semuanya disini karna itu didalam pikirku

Wednesday, October 20, 2021

Analis Kestabilan Lereng Pada Lokasi Tambang Batubara Tanah Laut Kalimantan Selatan

MAKALAH
Mekanika Batuan
Analis Kestabilan Lereng Pada Lokasi Tambang
Batubara Tanah Laut Kalimantan Selatan


D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
 
Nama                         : ......................................
NIM                           : ......................................
Kelas                          : ......................................
Guru Pembimbing   : ......................................
 
 

POLITEKNIK/UNIVERSITAS/SEKOLAH TINGGI ............................

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN BATUBARA

FAKULTAS TEKNIK

TAHUN AJARAN 20....


 
Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya kepada kami. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Mekanika Batuan ini dengan sebuah pembahasan tentang “Analis Kestabilan Lereng Pada Lokasi Tambang Batubara Tanah Laut Kalimantan Selatan”.
 
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Serta ucapan terima kasih kepada Bapak/Ibu selaku dosen pembimbing mata kuliah Mekanika Batuan, dimana atas bimbingan beliau saya dapat menyelesaikan makalah ini.
 
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
 
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat serta referensi pembelajaran maupun inpirasi terhadap pembaca.
 
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu
 
Palembang,                20....



Penulis


DAFTAR ISI
 
COVER...........................................................................................................................
KATA PENGANTAR..................................................................................................... 
DAFTAR ISI...................................................................................................................
BAB I      : PENDAHULUAN........................................................................................
A.    Latar Belakang........................................................................................

B.     Rumusan Masalah...................................................................................

C.     Tujuan Makalah......................................................................................

 
BAB II    : PEMBAHASAN...........................................................................................
A.    Kemantapan (Stabilitas) Lereng..............................................................

B.     Faktor-Faktor Yang Mepengaruhi Kemantapan (Stabilitas) Lereng.......

C.     Cara Menganalisis Kemantapan (Stabilitas) Lereng...............................

D.    Longsoran................................................................................................

E.     Jenis-Jening Lereng/Longsor...................................................................

F.      Klasifikas Lereng/Longsor......................................................................

G.    Metode Yang Digunakan Dalam Melakukan Kemantapan (Stabilitas)

Lereng Tanah Laut...................................................................................
H.    Angka Keamanan Plaxis (Phi-c Reduction)............................................

I.       Pengertian dan Konsep Dasar Metode Elemen Hingga (Finite Elemen

Methode...................................................................................................
J.       Hasil Analisis Kemantapan (Stabilitas Lereng)......................................

 
BAB III   : PENUTUP....................................................................................................
A.    Kesimpulan.............................................................................................

B.     Saran.......................................................................................................

 
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................
 

BAB I
PENDAHULUAN

A.         Latar Belakang 
Stabilitas lereng lahan rencana tambang mempunyai kaitan erat dengan perkembangan bidang diskontinuitas yang berkembang pada massa batuan penyusun daerah studi. Keberadaan litologi yang disusun oleh batuan sedimenter, struktur geologi yang ditemukan berkembang sebagai sesar dan kondisi lereng mikro yang setempat masih tampak relatif terjal sangat mempengaruhi kondisi stabilitas lahan daerah studi. Daerah studi yang membujur pada arah barat daya – timur laut disusun oleh batuan sedimenter Formasi Tanjung. Formasi Tanjung disusun oleh litologi konglomerat, batupasir kuarsa, batulempung dengan sisipan batubara di bagian bawah dan batupasir, siltstone serta batulempung (mudstone) di bagian atas.
Berdasarkan hasil observasi di lokasi tambang, terdapat beberapa longsoran kecil yang hampir terjadi di setiap pit tambang, namun pada umumnya lereng dinding tambang pada kondisi stabil. Kondisi stabilitas lereng pada daerah sekitar tambang khususnya daerah topografi bergelombang termasuk wilayah pemukiman penduduk masih dalam kondisi aman dan stabil, ditunjang dengan masih baiknya kondisi vegetasi mempunyai kontribusi yang cukup berarti untuk menunjang kemantapan lereng daerah setempat. Kondisi lereng di luar wilayah penambangan yang tidak stabil hanya dapat ditemukan secara setempat di lereng sungai di pinggir S. Kintap dan S. Satui yaitu berupa runtuhan tanah yang dipicu oleh adanya erosi lateral sungai.
Untuk menyelesaikan permasalahan stabilitas lereng maka perlu tinjauan yang lebih mendalam tentang stabilitas lereng. Stabilitas lereng merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam pekerjaan yang berhubungan dengan penggalian dan penimbunan tanah, batuan, dan bahan galian.
Dalam operasi penambangan masalah kemantapan lereng ini akan diketemukan pada penggalian tambang terbuka, bendungan untuk cadangan air kerja, tempat penimbunan limbah buangan (tailing disposal) dan penimbunan bijih (stockyard). Apabila lereng-lereng yang terbentuk sebagai akibat dari proses penambangan (pitslope) maupun yang merupakan sarana penunjang operasi penambangan (seperti bendungan dan jalan) tidak stabil, maka akan mengganggu kegiatan produksi. Para peneliti terdahulu telah melakukan kajian terkait dengan kestabilan lereng bekas tanah urug di Kota Banjar Baru (Dwiatmoko et.al., 2020), kajian stabillitas lereng pada tambang terbuka bahan galian C (Solihin dan Raditia, 2016), kajian kestabilan lereng pada tambang batubara terbuka Pit D (Bria dan Isjudarto. 2016 ).
Dari keterangan di atas, dapat dipahami bahwa analisis kemantapan lereng merupakan suatu bagian yang penting untuk mencegah terjadinya gangguan terhadap kelancaran produksi maupun terjadinya bencana yang fatal. Dalam keadaan tidak terganggu (alamiah), tanah atau batuan umumnya berada dalam keadaan seimbang terhadap gaya-gaya yang timbul dari dalam. Kalau misalnya karena sesuatu sebab mengalami perubahan keseimbangan akibat pengangkatan, penurunan, penggalian, penimbunan, erosi atau aktivitas lain, maka tanah atau batuan itu akan berusaha untuk mencapai keadaaan yang baru secara alamiah. Cara ini biasanya berupa proses degradasi atau pengurangan beban, terutama dalam bentuk longsoran-longsoran atau gerakan-gerakan lain sampai tercapai keadaaan keseimbangan yang baru.
Pada tanah atau batuan dalam keadaan tidak terganggu (alamiah) telah bekerja tegangan-tegangan vertikal, horisontal dan tekanan air dari pori. Ketiga hal di atas mempunyai peranan penting dalam membentuk kestabilan lereng. Sedangkan tanah atau batuan sendiri mempunyai sifat-sifat fisik asli tertentu, seperti sudut geser dalam (angle of internal friction), gaya kohesi, dan bobot isi yang juga sangat berperan dalam menentukan kekuatan tanah dan yang juga mempengaruhi kemantapan lereng. Oleh karena itu, dalam usaha untuk melakukan analisis kemantapan lereng harus diketahui dengan pasti sistem tegangan yang bekerja pada tanah atau batuan dan juga sifat-sifat fisik aslinya. Dengan pengetahuan dan data tersebut kemudian dapat dilakukan analisis kelakuan tanah ataubatuan tersebut jika digali atau “diganggu”. Setelah itu, bisa ditentukan geometri lereng yang diperbolehkan atau mengaplikasikan cara-cara lain yang dapat membantu lereng tersebut menjadi stabil dan mantap. Untuk penyelesaian kestabilan lereng peneliti terdahulu telah melakukan analisis dengan menggunakan Metode Elemen Hingga untuk mendapatkan Faktor Keamanan agar tidak terjadi longsor (Wibowo et al., 2018, Nuryanto dan Wulandari, 2017).
Penulis dalam makalah ini melakukan analisis kestabilan lereng pada lokasi reklamasi tanggul reservoir akibat penambangan batubara yang dianggap rentan terhadap longsor dengan menggunakan program Plaxis-2D yang selanjutnya dibandingkan dengan program Slope-W yang keduanya menggunakan Metode Elemen Hingga (Finite Element Method).
 
B.         Rumusan Masalah
         Dari pemaparan latar belakang masalah di atas maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1.        Apa yang dimaksud dengan kemantapan (stabilitas) lereng?

2.        Bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi kemantapan (stabilitas) lereng?

3.        Bagaimana cara menganalisis kemantapan (stabilitas) lereng?

4.        Apa yang dimaksud lereng/longsoran?

5.        Bagaimana jenis-jenis lereng/longsoran?

6.        Bagaimana klasifikasi lereng/longsoran?

7.        Bagaimana metode yang digunakan dalam melakukan kemantapan (stabilitas) lereng Tanah laut?

8.        Bagaimana angka keamanan plaxis (phi-c reduction)?

9.        Bagaimana pengertian dan konsep finite elemen methode?

10.    Bagaimana hasil analisis kamantapan (stabilitas) lereng?

 
C.         Tujuan Makalah
         Adapun tujuan dari makalah tersebut dari pemaparan rumusan masalah diatas sebgai berikut:
1.        Untuk mengetahui definisi dari kemantapan (stabilitas) lereng.

2.        Untuk mengatahui faktor-faktor yang mempengaruhi kemantapan (stabilitas) lereng.

3.        Untuk mengatahui cara-cara menganalisis kemantapan (stabilitas) lereng.

4.        Untuk mengetahui definisi lereng/longsor.

5.        Untuk mengetahui jenis-jenis lereng/longsor.

6.        Untuk mengetahui klasifikasi dari lerang/longsor.

7.        Untuk mengetahui metode yang digunakan dalam melakukan kemantapan (stabilitas) lereng tanah laut.

8.        Untuk mengetahui angka dari keamanan plaxis (phi-c reduction).

9.        Untuk mengetahui pengertian dan konsep finite elemen methode.

10.    Untuk mengetahui hasi dari analis kemantapan (stabilitas) lereng.

 

BAB II
PEMBAHASAN
 
A.      Pengertian Kemantapan (Stabilitas) Lereng

Kemantapan (Stabilitas) adalah keadaan suatu hal, gejala, yang seimbang dan tidak banyak berubah karena pengaruh, baik dari dalam maupun luar. Sedangkan Lereng adalah suatu bidang di permukaan tanah yang menghubungkan permukaan tanah yang lebih tinggi dengan permukaan tanah yang rendah. Lereng umunya terbentuk baik secara alami maupun dibuat oleh manusia.
Kemantapan (stabilitas) lereng merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam pekerjaan yang berhubungan dengan penggalian dan penimbunan tanah, batuan dan bahan galian, karena menyangkut persoalan keselamatan manusia (pekerja), keamanan peralatan serta kelancaran produksi. Dalam operasi penambangan masalah kemantapan lereng ini akan diketemukan pada penggalian tambang terbuka, bendungan untuk cadangan air kerja, tempat penimbunan limbah buangan (tailing disposal) dan penimbunan bijih (stockyard). Apabila lereng-lereng yang terbentuk sebagai akibat dari proses penambangan (pit slope) maupun yang merupakan sarana penunjang operasi penambangan (seperti bendungan dan jalan) tidak stabil, maka akan mengganggu kegiatan produksi.
 
B.       Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Kemantapan (Stabilitas) Lereng

Kestabilan lereng pada lereng batuan selalu dipengaruhi oleh beberapa faktor (Rai,1995) sebagai berikut:
a.         Penyebaran batuan

Jenis batuan atau tanah yang terdapat di daerah penelitianharus diketahui, demikian juga penyebaran serta hubungan antar batuan. Ini perlu dilakukan karena sifat-sifat fisik dan mekanik suatu batuan berbeda dengan batuan lain sehingga kekuatan menahan bebannya juga berbeda.
b.       Relief permukaan bumi

Faktor ini mempengaruhi laju erosi dan pengendapan serta menentukan arah aliran air permukaan dan air tanah.Hal ini disebabkan karena untuk daerah yang curam, kecepatan aliran air permukaan tinggi dan mengakibatkan pengikisan lebih intensif dibandingkan pada daerah yang landai, karena erosi yang intensif banyak dijumpai singkapan batuan menyebabkan pelapukan yang lebih cepat.Batuan yang lapuk mempunyai kekuatan yang rendah sehingga kestabilan lereng menjadi berkurang.
c.        Geometri lereng

         Geometri lereng mencakup tinggi dan sudut kemiringan lereng.Kemiringan dan tinggi suatu lereng sangat mempengaruhi kestabilannya.Semakin besar kemiringan dan tinggi suatu lereng maka kestabilannya semakin kecil.Muka air tanah yang dangkal,menjadikan lereng sebagian besar basah dan batuannya memiliki kandungan air yang tinggi, sehingga menyebabkan kekuatan batuan menjadi rendah dan lereng lebih mudah longsor.

d.       Struktur batuan

Struktur batuan yang sangat mempengaruhi kestabilan lereng adalah sesar, perlapisan dan rekahan.Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan dalam analisis adalah struktur regional dan lokal.Struktur batuan tersebut merupakan bidang-bidang lemah dan sekaligus sebagai tempat merembesnya air sehingga batuan menjadi lebih mudah longsor.
f.        Iklim

Iklim mempengaruhi temperatur dan curah hujan, sehingga berpengaruh pula pada proses pelapukan. Daerah tropis yang panas dan lembab dengan curah hujan tinggi akan menyebabkan proses pelapukan batuan jauh lebih cepat daripada daerah sub-tropis. Karena itu, ketebalan tanah di daerah tropis lebih tebal dan kekuatannya lebih rendah dari batuan segarnya.
g.       Tingkat pelapukan

Tingkat pelapukan mempengaruhi sifat-sifat asli dari batuan, misalnya angka kohesi, besarnya sudut geser dalam, bobot isi, dan lain-lain. Semakin tinggi tingkat pelapukan maka kekuatan batuan akan menurun.
h.       Aktivitas manusia

Selain faktor alamiah, manusia juga memberikan andil yang tidak kecil, misalnya suatu lereng yang awalnya mantap karena manusia menebangi pohon pelindung, pengolahan tanah yang tidak baik, saluran air yang tidak baik, penggalian/tambang, dan lainnya menyebabkan lereng tersebut menjadi tidak mantap, sehingga erosi dan longsoran mudah terjadi.
i.         Sifat fisik dan mekanik batuan

Sifat fisik batuan yang mempengaruhi kestabilan lereng adalah : bobot isi (density), porositas dan kandungan air. Kuat tekan, kuat tarik, kuat geser, kohesi dan sudut geser dalam merupakan sifat mekanik batuan yang juga mempengaruhi lereng.
1)       Bobot isi (unit weight)

Bobot isi batuan akan mempengaruhi besarnya beban pada permukaan bidang longsor. Sehingga semakin besar bobot isi batuan, maka gaya penggerak yang menyebabkan lereng longsor akan semakin besar. Dengan demikian, kestabilan lereng tersebut semakin berkurang.
2)       Porositas

Batuan yang mempunyai porositas besar akan menyerap air. Dengan demikian, bobot isinya menjadi lebih besar sehingga akan memperkecil kestabilan lereng.
3)       Kandungan air

Kandungan air sangat besar pengaruhnya dalam analisis kestabilan lereng. Semakin besar kandungan air dalam batuan, maka tekanan air pori menjadi besar juga. Dengan demikian, kuat geser batuannya akan menjadi kecil. Sehingga kestabilannya akan berkurang.
4)       Kuat tekan, kuat tarik dan kuat geser

Kekuatan batuan biasanya dinyatakan dengan kuat tekan (confined & unfined compressive strength), kuat tarik (tensile strength) dan kuat geser (shear strength). Batuan yang mempunyai kekuatan besar akan lebih mantap.
5)       Kohesi dan sudut geser dalam

Semakin besar kohesi dan sudut geser dalam, maka kekuatan geser batuan akan semakin besar juga.
6)       Pengaruh gaya

Biasanya gaya-gaya dari luar yang dapat mempengaruhi kestabilan lereng antara lain : getaran alat-alat berat yang bekerja pada atau sekitar lereng, peledakan, gempa bumi, dan lain-lain. Semua gaya-gaya tersebut akan memperbesar tegangan geser sehingga dapat mengakibatkan kelongsoran pada lereng.
 
C.      Cara Menganalisis Kemantapan (Stabilitas) Lereng

Cara analisis kestabilan lereng banyak dikenali, tetapi secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: cara pengamatan visual, cara komputasi dan cara grafik.
a)       Cara pengamatan visual adalah dengan cara mengamati langsung di lapangan dengan membandingkan kondisi lereng yang bergerak atau diperkirakan bergerak dan yang tidak, cara ini memperkirakan lereng labil maupun stabil dengan memanfaatkan pengalaman di lapangan (Pangular, 1985). Cara ini kurang teliti, tergantung dari pengalaman seseorang. Cara ini dipakai bila tidak ada potensi gerakan tanah terjadi saat pengamatan. Cara ini mirip dengan memetakan indikasi gerakan tanah dalam suatu peta lereng.

b)       Cara komputasi adalah dengan melakukan hitungan berdasarkan rumus, antaralain : Cara Fellenius dan Bishop menghitung Faktor Keamanan lereng (FK) dan dianalisis kekuatannya. Menurut Bowles (1989), pada dasarnya kunci utama gerakan tanah adalah kuat geser tanah yang dapat terjadi :

(1)      Tak terdrainase

(2)      Efektif untuk beberapa kasus pembebanan

(3)      Meningkat sejalan peningkatan konsolidasi (sejalan dengan waktu) atau dengan kedalaman

(4)      Berkurang dengan meningkatnya kejenuhan air (sejalan dengan waktu) atau terbentuknya tekanan pori-pori yang berlebih atau terjadi peningkatan air tanah.

Dalam menghitung besar faktor keamanan lereng dalam analisis kestabilan/kemantapan lereng tanah melalio metoda sayatab hanya gerakan tanah yang mempunyai bidang gelincir yang dapat dihitung. Cara komputasi ini juga termasuk penggunaan program komputer (software) dalam menghitung besaran nilai faktor keamanan (FK) lereng. Bila sudah diketahui besaran nilai FK pada setiap titik sampel maka bisa ditentukan kemantapan lereng pada titik tersebut. Program yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rocscience Slide Version 6. Dalam menginput data-data mekanika tanah dan geometri lereng, maka nilai FK dapat diketahui dengan cepat, tepat, dan akurat karena toleransi kesalahan program hanya 0,05%.
c)       Cara grafik adalah dengan menggunakan grafik yang sudah standar (Taylor, Hoel & Bray, Janbu, Cousins, dna Morganstren). Cara ini dilakukan untuk material homogen dengan struktur sederhana. Material yang heterogen (terdiri atas berbagai lapisan) dapat didekati dengan penggunaan rumus (cara komputasi). Stereonet, misalnya diagram jaring Schmidt (Schmidt Net Diagram) dapat menjelaskan arah gerakan tanah atau runtuhan batuan dengan cara mengukur strike/dip kekar-kekar (joints) dan strike/dip lapisan batuan.

 
D.      Lereng/Longsoran

Suatu longsoran adalah keruntuhan dari massa tanah yang terletak pada sebuah lereng sehingga terjadi pergerakan massa tanah ke bawah dan ke luar. Longsoran dapat terjadi dengan berbagai cara, secara perlahan-lahan atau mendadak serta dengan ataupun tanpa tanda-tanda yang terlihat. Setelah gempa bumi, longsoran merupakan bencana alam yang paling banyak mengakibatkan kerugian materi maupun kematian. Kerugian dapat ditimbulkan oleh suatu longsoran antara lain yaitu rusaknya lahan pertanian, rumah, bangunan, jalur transportsi serta sarana komunikasi.
 
E.       Jenis-Jenis Lereng/Longsor

Dalam bidang teknik sipil ada dua jenis lereng, yaitu :
1.        Lereng Alam (Natural Slopes)

Lereng alam terbentuk karena proses alam. Gangguan terhadap kestabilan terjadi bilamana tahanan geser tanah tidak dapat mengimbangi gaya-gaya yang menyebabkan gelincir pada bidang longsor.  Lereng alam yang telah stabil selama bertahun-tahun dapat saja mengalami longsor akibat hal-hal berikut :
1)       Gangguan luar akibat pemotongan atau timbunan baru.

2)       Gempa.

3)       Kenaikan tekanan air pori (akibat naiknya muka air tanah) karena hujan yang berkepanjangan, pembangunan dan pengisian waduk, gangguan pada sistem drainase dan lain-lain.

4)       Penurunan kuat geser tanah secara progresif akibat deformasi sepanjang bidang yang berpotensi longsor.

5)        Proses pelapukan.

Pada lereng alam, aspek kritis yang perlu dipelajari adalah kondisi geologi dan topografi, kemiringan lereng, jenis lapisan tanah, kuat geser, aliran air bawah tanah dan kecepatan pelapukan.
2.        Lereng Buatan (Man Made Slopes)

Lereng buatan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
a)       Lereng buatan tanah asli / lereng galian (Cut Slope)

Lereng ini dibuat dari tanah asli dengan memotong dengan kemiringan tertentu.  Untuk pembuatan jalan atau saliran air untuk irigasi.  Kestabilan pemotongan ditentukan oleh kondisi geologi, sifat teknis tanah, tekanan air akibat rembesan, dan cara pemotongan.
b)       Lereng Buatan Tanah yang Dipadatkan/lereng timbunan (Embankment)

Tanah dipadatkan untuk tanggul-tanggul jalan raya, bendungan, badan jalan kereta api.  Sifat teknis tanah timbunan dipengaruhi oleh cara penimbunan dan derajat kepadatan tanah.
 
F.       Klasifikasi Lereng/Longsor

Suatu keruntuhan teknis yang paling umum adalah longsornya suatu galian atau timbunan. Apabila terjadi suatu longsoran dalam tanah lempung, seringkali didapat merupakan sepanjang suatu busur lingkaran.  Busur lingkaran ini dapat memotong permukaan lereng, melalui titik kaki lereng (toe) atau memotong dasar lereng (deep seated) dan menyebabkan peningkatan pada dasar. (Lihat gambar 2.1).
 

Sharpe (1938) telah mengklasifikasikan longsor berdasar material dan kecepatan pergerakan tanah dengan siklus geomorfologi serta faktor cuaca.
Sedangkan Savarenski  dari Soviet (1939) membagi kelongsoran kedalam 3 kelompok sebagai berikut :
a)       Longsor Aseqvent

Longsor Aseqvent terjadi pada tanah kohesif yang homogen dan bidang longsornya hampir mendekati lingkaran.
b)       Longsor Conseqvent

Longsor conseqvent terjadi bilamana bergerak diatas bidang-bidang lapis atau sesar (joint).
c)       Longsor Insiqvent

Pada longsor insiqvent tanah biasanya bergerak secara transversal terhadap lapisan dan umumnya memiliki ukuran yang luas serta bidang runtuhnya panjang menembus kedalam tanah.
Nemcok,  Pasek, dan Rybar dari Cekoslowakia (1972) telah mengusulkan untuk memperbaiki klasifikasi dan terminologi longsor berdasarkan mekanisme dan kecepatan pergerakan.  Pengelompokkannya berdasarkan empat katagori dasar yaitu:
1)     Rangkak (Creep)

Rangkak (creep) meliputi berbagai macam pergerakan yang lambat dari rangkak talud sampai pergerakan lereng gunung akibat gravitasi dalam jangka waktu yang panjang atau lama.
2)     Aliran (flowing)

Bila tanah yang terbawa longsor banyak mengandung air, maka perilaku longsor seperti aliran.  Contoh aliran tanah (earthflow) atau aliran lumpur (mudflow).
3)     Gelincir (Sliding)

Untuk pergerakan tanah yang relatif cepat sepanjang bidang longsor yang tertentu dikelompokkan kedalam kategori ini.
4)     Tanggal (Fall)

Pergerakan batuan padat / pejal (solid) yang cepat dengan sifat utamanya tanggal bebas (free fall).



Tanah longsor yang terjadi pada bidang gelincir yang hampir tegak lurus dan sejajar dengan muka tanah yang bersifat bergerak dalam suatu jurusan.
 
G.      Metode Yang Digunakan Dalam Melakukan Kemantapan (Stabilitas) Lereng Tanah Laut

Metode Fellenius (Ordinary Method of Slice) diperkenalkan pertama oleh Fellenius (1927,1936) berdasarkan bahwa gaya memiliki sudut kemiringan paralel dengan dasar irisan FK dihitung dengan keseimbangan momen. Fellenius mengemukakan metodenya dengan menyatakan asumsi bahwa keruntuhan terjadi melalui rotasi dari suatu blok tanah pada permukaan longsor berbentuk lingkaran (sirkuler) dengan titik O sebagai titik pusat rotasi. Metode ini juga menganggap bahwa gaya normal P bekerja di tengah-tengah slice (Violeta et al., 2014; Tinambunan et al., 2018).
Dengan anggapan-anggapan ini maka dapat diuji persamaan keseimbangan momen untuk seluruh irisan terhadap titik pusat rotasi dan diperoleh suatu nilai faktor keamanan. Pada Gambar 2 diperlihatkan suatu lereng dengan sistem irisan untuk berat sendiri massa tanah (W) serta analisis komponen gaya-gaya yang timbul dari berat massa tanah tersebut, yang terdiri dari gaya-gaya antar irisan yang bekerja di samping kanan irisan (Er dan Xt). Pada bagian alas irisan, gaya berat (W) diuraikan menjadi gaya reaksi normal Pw yang bekerja tegak lurus alas irisan dan gaya tangensial Tw yang bekerja sejajar irisan. Besarnya lengan gaya (W) adalah x = R sin α, dimana R adalah jari-jari lingkaran longsor dan sudut α adalah sudut pada titik O yang dibentuk antara garis vertikal dengan jari-jari lingkaran longsor.


 
Dalam menentukan kestabilan atau kemantapan lereng, dikenal istilah faktor keamanan (safety factor) yang merupakan perbandingan antara gaya-gaya yang menahan gerakan terhadap gaya-gaya yang menggerakkan tanah tersebut dianggap stabil, bila dirumuskan sebagai berikut :
Faktor kemanan (F)  = gaya penahan / gaya penggerak
Dimana untuk keadaan :
F > 1,250                 : lereng dalam keadaan aman
1,000 < F< 1,250     : lereng dalam keadaan seimbang, dan siap untuk longsor
F < 1,000                 : lereng tidak aman

H.      Angka Keamanan Plaxis (Phi-c Reduction)

Analisis keamanan dalam PLAXIS dapat dilakukan dengan mereduksi parameter kekuatan dari tanah yang disebut sebagai Reduksi phi-c. Reduksi phi-c digunakan untuk menghitung faktor keamanan global dalam analisis tertentu. Analisis keamanan dapat dilakukan di setiap tahapan perhitungan ataupun tahapan konstruksi secara individual. Namun, tahapan Reduksi phi-c tidak dapat kembali ke kondisi awal untuk tahapan perhitungan yang lain karena tahapan Reduksi phi-c berakhir pada suatu kondisi keruntuhan.
Pada saat melakukan suatu analisis keamanan, peningkatan pembebanan tidak dapat dilakukan secara simultan karena Reduksi phi-c pada dasarnya merupakan suatu jenis perhitungan plastis yang khusus. Kekuatan dari interface, jika digunakan, juga direduksi dengan cara yang sama. Kekuatan dari struktural seperti pelat dan jangkar tidak dipengaruhi oleh Reduksi phi-c.
Saat menggunakan Reduksi phi-c dengan model-model tanah tingkat lanjut, maka model-model tersebut akan berlaku sebagai model Mohr-Coulomb standar, karena sifat kekakuan yang tergantung dari tegangan dan efek hardening tidak ikut diperhitungkan dalam analisis. Sehingga kekakuan yang digunakan adalah kekakuan yang dihitung pada awal tahapan perhitungan dan tetap bernilai konstan hingga tahapan perhitungan selesai.
Faktor pengali total ΣMsf digunakan untuk mendefinisikan parameter kekuatan tanah pada suatu tahapan tertentu dalam analisis, yaitu:


Nilai ΣMsf diatur ke 1,0 pada awal perhitungan agar seluruh kekuatan material diatur ke nilai yang belum direduksi. Faktor keamanan yang diberikan adalah:

 

I.         Pengertian dan Konsep Dasar Metode Elemen Hingga (Finite Elemen Methode)

Finite Element Method (FEM) atau biasanya disebut Finite Element Analysis (FEA), adalah prosedur numeris yang dapat dipakai untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam bidang rekayasa (engineering). Inti dari FEM adalah membagi suatu benda yang akan dianalisis, menjadi beberapa bagian dengan jumlah hingga (finite). Bagianbagian ini disebut elemen yang tiap elemen satu dengan elemen lainnya dihubungkan dengan nodal (node). Kemudian dibangun persamaan matematika yang menjadi reprensentasi benda tersebut. Proses pembagian benda menjadi beberapa bagian disebut meshing yang menggambarkan dasar pendekatan FEM yang dijelaskan pada Gambar 3.

 
Banyak fenomena fisik dalam bidang sains dan teknik yang dapat digambarkan dalam bentuk persamaan diferensial parsial. Secara umum, memecahkan persamaan ini dengan metode analitis klasik untuk bentuk atau pola yang acak sangat sulit dan hampir mustahil. Metode elemen hingga (FEM) adalah salah satu metode pendekatan numerik di mana persamaan diferensial parsial. Penyelesaian dengan menggunakan Metode Elemen Hingga (FEM) menghasilkan sebuah persamaan dari suatu masalah yang kemudian akan dianalisis dalam suatu sistem persamaan serentak agar diperoleh suatu penyelesaian. Penyelesaian dengan metode elemen hingga tersebut akan memberikan suatu hasil pendekatan dari nilai sebenarnya yang tidak diketahui pada suatu titik tertentu dalam sistem kontinyu. Sistem yang kontinyu merupakan istilah dari suatu kondisi struktur atau objek yang sebenarnya. Dikritisasi (discretization) merupakan proses pemodelan dari suatu objek dengan membagi ke dalam elemen-elemen kecil (finite element) yang dihubungkan oleh titik-titik (nodes) yang digunakan oleh elemenelemen tersebut dan juga sebagai batasan dari objek tersebut. Di dalam metode elemen hingga persamaan yang diperoleh dari seluruh sistem kemudian dibentuk dari penggabungan persamaan elemen-elemennya.
Penyelesaian suatu masalah dengan Metode Elemen Hingga (MEH) umumnya menggunakan perhitungan matriks yang cukup kompleks. Penyelesaian MEH memerlukan perhitungan yang cukup banyak dan berulang, sehingga diperlukan program komputer untuk mempermudah dan juga agar lebih efisien. Penyelesaian dari seluruh sistem biasanya merupakan persamaan serentak dan dinyatakan dalam bentuk matriks kemudian diselesaian menggunakan persamaan serentak seperti Iterasi Gauss-Seidel, Cholesky, dan Eliminasi Gauss.
Prosedur pembuatan model secara grafis yang mudah memungkinkan pembuatan suatu model elemen hingga yang rumit dapat dilakukan dengan cepat, sedangkan berbagai fasilitas yang tersedia dapat digunakan untuk menampilkan hasil komputasi secara mendetil. Proses perhitungannya sendiri sepenuhnya berjalan secara otomatis dan didasarkan pada prosedur numerik yang handal (PLAXIS Versi 8.2, Geotechnical Software, 2002, Delft Netherland).

J.        Hasil Analisis Kemantapan (Stabilitas) Lereng

Analisis kestabilan lereng harus berdasarkan model yang akurat mengenai kondisi material bawah permukaan, kondisi air tanah dan pembebanan yang mungkin bekerja pada lereng. Tanpa sebuah model geologi yang memadai, analisis hanya dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang kasar sehingga kegunaan dari hasil analisis dapat dipertanyakan.
Berdasarkan data sekunder hasil penyelidikan geoteknik diketahui bahwa Pit Tambang berpotensi menyebabkan terjadinya longsoran. Hal ini terbukti dengan adanya longsoran-longsoran kecil di setiap pit tambang. Dari hasil penyelidikan geoteknik diketahui pula bahwa di setiap pit tambang mempunyai nilai Faktor Keamanan (FK) ≥ 1,320, yakni nilai yang mengindikasikan bahwa lereng dinding tambang Pit Satui dan Karuh dalam kondisi aman (Tabel 1).


Berdasarkan analisis kestabilan lereng yang dilakukan oleh konsultan Satui Engineering untuk Void Antasena timur yang memiliki luas 46,7 ha dan kedalaman 96 m. Meterial Properties terdiri dari waste, sandstone, siltstone, claystone, carbonaceous, Coal dan bed rock yang mempunyai properties nilai Unit Weigth, Cohesion dan Phi dapat dilihat pada Tabel 2.


Analisis dilakukan pada kondisi jenuh dan 90% jenuh. Besarnya faktor keamanan (safety factor) ditentukan atas dasar nilai SF > 1,250 kondisi aman, nilai SF antara 1,000 - 1,250 kondisi kritis dan nilai SF < 1,000 kondisi tidak aman. Void Antasena untuk dilakukan pengecekan stabilitasnya kondisi saat ini ditunjukkan pada Gambar 4.

Lokasi lereng yang perlu dilakukan pengecekan terdiri dari 2 bagian yaitu East (daerah yang lebih landai) dan West (daerah yang lebih curam). Lereng tersebut telah dihitung menggunakan slope-W dan hasil untuk Slope S-W Potongan East (S-W Section) SF = 0,114 dapat dilihat pada Gambar 5, dan hasil Slope S-W Potongan West (S-W Section) SF = 1,743 dapat dilihat pada Gambar 6. Slope S-W Potongan East HW (N-S Section) SF = 1,258 dapat dilihat pada Gambar 7 dan Slope S-W Potongan East LW (N-S Section) SF = 1,33 dapat dilihat pada Gambar 8 dan hasil perhitungan ditunjukkan pada Tabel 4. Pada dasarnya angka keamanan lereng merupakan perbandingan antara kekuatan tanah yang menahan dengan yang mendorong lereng tersebut. Artinya dengan angka keamanan SF=1,0 (kondisi kritis) lereng masih bisa berdiri. Namun untuk kasus potongan B-B, dari analisis slope-W diperoleh angka keamanan <1,0, dimana lereng seharusnya sudah longsor.

 

Plaxis merupakan program komputer berdasarkan metode elemen hingga (2 dan 3 Dimensi) yang dapat digunakan secara khusus melakukan analisis deformasi dan stabilitas untuk bebagai aplikasi dalam bidang geoteknik. Program ini merupakan metode antarmuka grafis yang mudah digunakan sehingga pengguna dapat dengan cepat membuat model geometri dan jaring elemen berdasarkan penampang melintang dari kondisi lereng yang akan dianalisis. Angka keamanan diperoleh dari hasil perhitungan Plaxis merupakan angka keamanan secara global terhadap model. Perlu diperhatikan bahwa analisis ini tidak diikutsertakan muka air tanah.
 
Potongan East (S-W Section)
Section S-W dibagi atas dua potongan yaitu pada bagian east, dimana lereng lebih curam dan timbunan (waste) lebih tebal dan kedua adalah potongan west dengan kondisi lereng cukup landai. Model perhitungan yang digunakan adalah model keruntuhan Mohr-Coulomb, dengan spesifikasi perilaku tanah drained pada lapisan pasir dan undrained pada lapisan lempung/lanau.
Hasil perhitungan untuk potongan East SF < 1,0 dimana lereng sudah mengalami keruntuhan. Daerah paling kritis berada pada kaki lereng. Keruntuhan terjadi pada lapisan waste yang mempunyai parameter kekakuan dan kekuatan tanah lebih kecil dari lapisan lainnya. Hasil perhitungan ditunjukkan pada Gambar 10, sedangkan pada potongan West angka keamanan diperoleh sebesar SF = 2,34, dimana lereng cukup kuat karena lapisan waste cukup landai. Hasil perhitungan plaxis ditunjukkan pada Gambar 11.


Potongan East HW-LW (N-S Section)
Section N-S, juga dibagi atas dua potongan yaitu potongan HW dan potongan LW. Hasil perhitungan Plaxis untuk kedua model ini menunjukkan nilai angka keamanan lereng SF= 1,98 dan SF = 1,33. dimana lereng cukup kuat dan stabil terhadap gaya yang mendorongnya. Hasil permodelan masing-masing ditunjukkan pada Gambar 12 dan Gambar 13.


Setelah dilakukan analisis menggunakan model Plaxis diperoleh hasil sebagai berikut:
1.       Analisis untuk potongan east (S-W Section), model telah collapse (runtuh) dengan angka keamanan SF< 1,0, karena Plaxis tidak bisa menghitung angka keamanan yang kecil dari nol. Sehingga tidak diketahui berapa SF yang sesungguhnya. Hal ini juga sesuai dengan analisis yang dilakukan menggunakan Slope-W dimana angka keamanan SF<1,0 (0,114).

2.       Untuk 3 section lainnya menunjukkan nilai angka keamanan yang lebih besar dari SF =1,25, sehingga lereng cukup aman dan stabil.

3.       Untuk section dimana angka keamanan kecil dari 1,0, dapat dilakukan beberapa metode perbaikan dengan cara yang dijelaskan pada bab berikut.

Kemantapan (stabilitas) lereng merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam pekerjaan yang berhubungan dengan penggalian dan penimbunan tanah, batuan, dan bahan galian karena menyangkut persoalan keselamatan manusia (pekerja), keamanan peralatan serta kelancaran produksi. Keadaan ini berhubungan dengan bermacam-macam jenis pekerjaan, misalnya pada pembuatan jalan, tanggul, bendungan, penggalian kanal, penggalian untuk konstruksi, penambangan, dan lain-lain.
Dalam operasi penambangan masalah kemantapan lereng ini akan diketemukan pada penggalian tambang terbuka, bendungan untuk cadangan air kerja, tempat penimbunan limbah buangan (tailing disposal) dan penimbunan bijih (stockyard). Apabila lereng-lereng yang terbentuk sebagai akibat dari proses penambangan (pit slope) maupun yang merupakan sarana penunjang operasi penambangan tidak stabil, maka akan mengganggu kegiatan produksi. Gangguan terhadap kestabilan terjadi bilamana tahanan geser tanah tidak dapat mengimbangi gayagaya yang menyebabkan gelincir pada bidang longsor. Lereng buatan tanah asli / lereng galian (Cut Slope) dibuat dari tanah asli dengan memotong kemiringan. Untuk menyelesaikan masalah ini berdasarkan pengamatan di lapangan dan analisis kestabilan lereng dengan mengunakan Program Plaxis 2D dan Slope-W (kajian terdahulu) maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a)       Memperkecil gaya yang mendorong lereng untuk terjadi keruntuhan seperi memperkecil ketinggian lereng atau membuat lereng agar lebih datar.

b)       Memperbesar gaya yang menahan lereng dengan menambahkan counterweight pada kaki lereng atau dengan membuat drainase horizontal untuk mengurangi tekanan air pori.

c)       Menambahkan perkuatan seperti injeksi dengan grouting, membuat dinding penahan tanah ataupun dengan sheetpile.


 
BAB III
PENUTUP
 
A.      Kesimpulan

Berdasarkan analisis Consultant Satui Engineering dengan menggunakan program Slope-W untuk Potongan East (S-W Section), Potongan West (S-W Section), Potongan East HW (N-S Section), Potongan East LW (N-S Section) diperoleh model keruntuhan (collapse) dengan angka keamanan SF < 1,0 dan dibandingkan dengan analisis penulis dengan menggunakan Plaxis-2D, dimana nilai angka keamanan SF < 1 tidak bisa ditentukan. Berdasarkan analisis Slope-W diperoleh nilai SF < 1,0 (0,114) dan analisis Plaxis diperoleh nilai SF < 1 terjadi pada Potongan East (S-W Section), hal ini menunjukan bahwa Analisis dengan program Slope-W dan program Plaxis 2D mempunyai hasil yang sama dalam menentukan kemungkinan akan terjadi keruntuhan pada tanggul yang dibuat untuk menampung air sebagai sumber air. Untuk 3 potongan lainnya menunjukkan nilai angka keamanan yang lebih besar dari SF =1,25, sehingga lereng cukup aman dan stabil. Upaya yang perlu dilakukan pada lereng yang berpotensi mengalami kelongsoran dengan memperkuat lereng yang rentan mengalami longsor.
 
B.       Saran

Analisis kestabilan lereng harus berdasarkan model yang akurat mengenai kondisi material bawah permukaan, kondisi air tanah dan pembebanan yang mungkin bekerja pada lereng. Tanpa sebuah model geologi yang memadai, analisis hanya dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang kasar sehingga kegunaan dari hasil analisis dapat dipertanyakan. Dan makalah ini bisa menjadi tolak ukur dalam penelitian dan makalah-makalah lainnya
 

 
DAFTAR PUSTAKA
 

https://ejurnal.bppt.go.id/index.php/Alami/article/view/4556/3947 (Di akses pada tangal 29 Juli 2021)

https://id.wiktionary.org/wiki/kemantapan (Di akses pada tangal 29 Juli 2021)

No comments:

Post a Comment