Biarkan kata-kata aneh terbentuk, hanya menuangkan semuanya disini karna itu didalam pikirku

Thursday, April 23, 2020

Makalah Sejarah Indonesia Tentang "Kerajaan Medang Kamulan"

MAKALAH
Sejarah Indonesia
Kerajaan Medang Kamulan

D
I
S
U
S
U
N
OLEH:

KELOMPOK ....
1.       ..........................................
2.       ..........................................
3.       ..........................................
4.       ..........................................
5.       ..........................................
6.       ..........................................
7.   ..........................................


SMA/SMK ............................................
TAHUN AJARAN 20....-20....


KATA PENGANTAR

Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu

Dengan menyebut nama Allah Subhana Wa Ta’ala yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya kepada kami. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Sejarah Indonesia ini dengan sebuah pembahasan tentang “Kerajaan Medang Kamulan”.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Serta ucapan terima kasih kepada guru pembimbing pelajaran Sejarah Indonesia Yang terhormat Ibu/Bapak ....................................., dimana atas bimbingan beliau kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat serta referensi pembelajaran maupun inspirasi terhadap pembaca.

Wassalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu

Palembang,                    2020



Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Bhumi Mataram adalah sebutan lama untuk Yogyakarta dan sekitarnya. Di daerah inilah untuk pertama kalinya istana Kerajaan Medang diperkirakan berdiri (Rajya Medang i Bhumi Mataram). Nama ini ditemukan dalam beberapa prasasti, misalnya prasasti Minto dan prasasti Anjukladang. Istilah Mataram kemudian lazim dipakai untuk menyebut nama kerajaan secara keseluruhan, meskipun tidak selamanya kerajaan ini berpusat di sana.
Pada abad ke-10 berakhinya kekuasaan Dyag balitung dikerajaan Mataram hindu di Jawa Tengah , kekuasaannya mundur. Ada dugaan bahwa kemunduran akibat adanya bencana alam. Terutama gunung meletus yang mengahancurkan pusat kerajaan dan seluruh perekonomiannya.  Masalah ini tidak dapat di selesaikan oleh Rakai Wawa . ia wafat  mendadak .kedudukan itu selanjudnya digantikan oleh Mpu Sindok yang waktu itu menjadi Rakryan I Hino. Kemudian kerajaan Mataram kuno pindah ke Jawa Timur,tepatnya di muara Sungai Brantas,ibukota Medang adalah Watan Mas.
Setelah ia memindahkan kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.Mpu Sindok memerintah Kerajaan Medang dari tahun 929 hingga 948. Mpu Sindok memerintah bersama permaisuri yang bernama Mpu Kebi, yang bergelar Sri Prameswari Wardhani Mpu Kebi Nama Permaisuri Mpu Kebi atau Dyah Kebi ini dapat di temukan dalam Prasasti Cunggrang (929) dan Prasasti Gaweg (933).
Sistem birokrasi kerajaan Medang masih sama dengan kerajaan lain yaitu pemimpin teritinggi yaitu raja, didalam naskah Ramayana Kakawin yang sampai kepada kita berisikan tentang rajadharma (tugas kewajiban seorang raja) yaitu bagian yang merupakan ajaran Rama kepada adiknya Brarata dan kepada Whibisana dijumpai antara lain ajaran astabrata, yaitu prilaku yang delapan. Dikatakan bahwa didalam diri seorang raja berpadu 8 dewa-dewa yaitu Indra, Yama, Suryya,Soma, Wayu, Kuwera, Waruna, dan Agni.
Dan keadaan masyarakatnya yaitu bertani dan masih adanya sistem perpajakan untuk rakyat, masyarakat juga mengenal perdagangan di pasar desa dan diluar pulau, barang yang diperdagangan seperti hasil bumi yaitu berasm buah-buahan, sirih pinang dan buah mengkudu juga hasil industrai rumah tangga, seperti alat perkakas dari besi dan tembaga, pakaian , payung, keranjang dan barang- barang anyaman, kejang kepis, gula arang dan kapur sirih. Binatang ternak seperti kerbau, sapi, kambing ituk dan ayam serta telurnya juga diperjualbelikan.
B.       Rumusan Masalah
Dari pemaparan latar belakang masalah di atas maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1.        Bagaimana sejarah Kerajaan Medang Kamulan?
2.        Apa penyebab perpindahan Kerajaan Medang Kamulan?
3.        Dimana pusat Kerajaan Medang Kamulan?
4.        Apa sumber-sumber  sejarah Kerajaan Medang Kamulan?
5.        Bagaimana sistem pemerintahan Kerajaan Medang Kamulan?
6.        Bagaimana sistem perekonomian, kepercayaan dan Hukum Kerajaan Medang Kamulan?
7.        Apa penyebab runtunya Kerajaan Medang Kamulan?

C.      Tujuan Penulisan
Dengan tersusunya makalah ini penulis mempunyai tujuan, bagi siapapun pembacanya yaitu antara lain :
1.        Agar pembaca tahu sejarah dari Kerajaan Medang Kamulan.
2.        Agar pembaca tahu sebab-sebab perpindahan Kerajaan Medang Kamulan.
3.        Agar pembaca mengetahui sumber-sumber sejarah Kerajaan Medang Kamulan.
4.        Agar pembaca mengetahui struktur pemerintahan kerajaan Medang Kamulan.
5.        Agar pembaca tahu sistem birokrasi, Kosmogonis dan hokum kerajaan Medang Kamulan.
6.        Agar pembaca tahu penyebab runtuhnya Kerajaan Medang Kamulan.



BAB II

PEMBAHASAN


A.      Sejarah Kerajaan Medang Kamulan dan Perpindahan  Kerajaan Medang Kamulan
Pada umumnya sebutan Mataram Kuno lazim dipakai untuk menyebut nama Kerajaan ini pada periode Jawa Tengah. Nama Mataram merujuk pada nama ibu kota kerajaan ini. Kadang untuk membedakannya dengan Kerajaan Mataram Islam yang berdiri pada abad ke-16, biasa pula disebut dengan nama Kerajaan Mataram Hindu. Istilah Kerajaan Medang Kamulan  dipakai untuk menyebut nama kerajaan pada periode Jawa Timur. Namun berdasarkan prasasti-prasasti yang telah ditemukan sebetulnya nama Medang Kamulan sudah dikenal sejak periode sebelumnya, yaitu periode Jawa Tengah.
Pada kerajaan di Jawa Tengah, Raja Wawa (924-929) serta merta tampil sebagai penguasa di jawa tengah, dibantu oleh pati sekaligus menantunya, Mpu Sindok, Wawa digantikan  Mpu Sindok (929-947) yang dikenal sebagai raja berjiwa prajurid, dan sangat toleran terhadap pemeluk agama Budha Mahayana, serta Sang Hyang Kamahaniyanikan berhasil dirubah kedalam Bahasa Jawa Kuno dari Bahasa Sanksekerta. Kitap ini memuat cerita tentang dewa-dewa yang mirip dengan relief yang ada di candi Borobudur. Sebuah kitab agama Hindu Syiwa Brahmanapurana yang berisikan Kosmologi, Kosmogoni, sejarah para resi, dan cerita pertikaian antar kasta juga diterbitkan dalam waktu hamper bersamaan.
Sementara itu, nama yang lazim dipakai untuk menyebut Kerajaan Medang Kamulan  periode  tengah Kerajaan Mataram, yaitu merujuk kepada salah daerah ibu kota kerajaan ini. Kadang untuk membedakannya dengan Kerajaan Mataram Islam yang berdiri pada abad ke-16, Kerajaan Medang Kamulan periode Jawa Tengah biasa pula disebut dengan nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu. Kerajaan Medang Kamulan mengalami beberapa masa perpindahan yang cukup siknifikan yaitu :
a)        Medang i Bhumi Mataram (zaman Sanjaya)
b)        Medang i Mamrati (zaman Rakai Pikatan)
c)        Medang i Poh Pitu (zama n Dyah Balitung)
d)       Medang i Bhumi Mataram (zaman Dyah Wawa)
e)        Medang i Tamwlang (zaman Mpu Sindok)
f)         Medang i Watugaluh (zaman Mpu Sindok)
g)        Medang i Wwatan (zaman Dharmawangsa Teguh)
Pada abad ke-8 kerajaan Pra Mataram Islam (Mataram Kuno) memerintah di Jawa Tengah, dengan Sanjaya (Syiwaistik) berkuasa di Kawasan Utara (kedu), sedangkan Syailendra (Budha Mahayana) berkuasa dikawasan selatan (Bagelan dan Mataram ). Candi –candi Hindu (Dieng, Prambanan, dll) dan Budha (Borobudur, Mendut Kalasan, dll) membuktikan pada masa bersamaan di Jawa terdapat dua agama besar yang bertoleransi.
Tetapi seiring adanya pindahnya kerajaan Mataram kuno ke Jawa Timur disebabkan letusan Gunung Merapi , Mpu sindok pada tahun 929 memindahkan pusat kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Menurut catatan sejarah, tempat baru tersebut adalah watugaluh, yang terletak disungai Brantas, sekarang kira-kira adalah wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Kerajaan baru ini tudak lagi disebut Mataram, namun Medang Kamulan. Meskipun demikian, beberapa literature masih menyebutkan sebagai Mataram II.
Selain itu sebab pemerintahan Kerajaan Mataram kuno juga sempat berpindah ke Jawa Timur disebabkan  selama abad ke-7 sampai ke-9 terjadi serangan-serangan dari Sriwijaya ke Kerajaan Mataram Kuno. Besarnya pengaruh Kerajaan Mataram Kuno semakin terdesak ke wilayah timur. Seperti yang telah diketahui sekarang tidak diketahui nama kerajaan di Jawa Tengah ini sebelum masa pemerintahan Sanjaya. Nama Mataram mungkin baru dipakai sejak Sanjaya, ia bergelar rakai Mataram, demikian pula nama Medang sebagai pusat kerajaan. Cerita Parahyangan menyebutkan nama kerajaan Sanna dan Sanjaya itu Galuh. Memang dari prasasti Sojomerto dan beberapaprasasti lain yang hingga kini belum dapat dibaca, tetapi jelas menggunakan hurug Pallawa, yang ditemukan di daerah Pekalongan, mungkin sekali pusat kerajaan wangsa Sailendra itu mula-mula di daerah Pekalongan sekarang.
Setelah Sri Isyanatunggawijaya meninggal maka kerajaan medang Kamulan di pimpin oleh Raja Sri Dharmawangsa teguh Anantawikramatunggadewa yaitu anaknya Sri Isyanatunggawijaya dari perkawinannya dengan Raja Lokapala. Dharmawangsa menikah dengan cucu Isyanatunggawiyaya yang lain dan mewarisi tahta mertuanya (991-1016). Selama pemerintahannya telah diterbitkan berbagai karya, diantaranya Kakawin Mahabrata, yang diterjemahkan kedalam Bahasa  Jawa Kuna dari kitap Mahabrata India.  Dharmawangsa menyerang Sriwijaya untuk merebut bagian selatan wilayahnya agar dapat menguasai selat sunda yang sangat penting bagi perdagangan(992).
Sriwijaya dibantu Raja Wurawuri dari semenanjung Melayu membalas serangan Dharmawangsa Teguh (1016). Serangan terjadi sewaktu pesta perkawinan agung antara putri Dharmawangsa,Dharmawangsa, Sri dan Airlangga (16 tahun), keponakannya, Raja dan Para pembesar Negara gugur, tumpas-tapis, namun Airlanggadan pengiring setianya Narottama, dapat menyingkir ke pegunungan Wonogiri. Mereka hidup bersama- sama para pendeta Hindu dan biksu Budha selama dua tahun.
Airlangga untuk menduduki tahta kerajaan, memanfaatkan situasi vacuum of power di Jawa Timur ketika tentara pendudukan Wurawari disana terpaksa ditarik kembali ke, semenanjung melayu yang tengah diserang colomandala dari india selatan. Airlangga mengawini seorang putri Sriwijaya, tentunya berpotensi memproduksi ancaman dari lawan.
Setelah beberapa tahun kemudian  berada di hutan, akhirnya pada tahun 1019, airlangga berhasil mempersatukan wilayah kerajaan Medang Kamulan yang telah terpecah, membangun kembali kerajaan, dan berdamai dengan Sriwijay. Kerajaan baru ini dikenal dengan kerajaan Kahuripan , yang wilayahnya membentang dari pasuruan di timur hingga Madiun dibarat. Airlangga memperluaswilayahnya kerajaan hingga ke Jawa Tengah dan Bali. Pada tahun 1025, Airlangga memperlebar pengaruh Kahuripan seiring dengan melemahnya Sriwijaya. Pantai Utara Jawa terutama Surabaya dan Tuban, menjadi pusat perdagangan yang penting untuk pertama kalinya.
Setelah dikukuhkan sebagai pewaris tahta  mertuanya, Dharmawangsa Teguh, Airlangga mengganti nama kerajaan Medang Kamulan menjadi Kahuripan dengan ibukota Wulan Mas (1037). Setelah kerajaan Medang Kamulan berpindah menjadi Kahuripan, raja Airlangga berhadapa dengan masalah pewarisan tahtanya sebagai raja,pewarisan itu  yaitu Sanggrammawijaya, memilih menjadi pertapa dari pada mengganti Airlangga. Pada tahun 1045, Airlangga membagi Kahuripan  menjadi dua kerajaan untuk putranya yaitu Jenggala dan Kediri (penjulu), Airlangga sendiri menjadi pertapa dan meninggal pada tahun 1049. Airlangga dimakamkan di candi Belahan dengan perluhuran sebagai wisnu naik burung Garuda.
Dengan pemecahan Kerajaan Kahuripan itu maka Pecahan kerajaan Medang berakhir, kerajaan Janggala tidak mampu berkembang menjadi Negara besar sehingga lenyapdari percaturan politik sedangkan  kerajaan Panjalu atau Kediri semakin berkembang, dangan memiliki kekuasaan sampai perairan Indonesia bagian barat dan timur dengan Raja Jayabaya.



B.       Pusat Kerajaan Medang Kamulan


"Bhumi Mataram" adalah sebutan lama untuk Yogyakarta dan sekitarnya. Di daerah inilah untuk pertama kalinya istana Kerajaan Medang diperkirakan berdiri (Rajya Medang i Bhumi Mataram). Nama ini ditemukan dalam beberapa prasasti, misalnya prasasti Minto dan prasasti Anjuk ladang. Istilah "Mataram" kemudian lazim dipakai untuk menyebut nama kerajaan secara keseluruhan, meskipun tidak selamanya kerajaan ini berpusat di sana.
Sebenarnya, pusat Kerajaan Medang pernah mengalami beberapa kali perpindahan, bahkan sampai ke daerah Jawa Timur sekarang. Beberapa daerah yang pernah menjadi lokasi istana Medang berdasarkan prasasti-prasasti yang sudah ditemukan antara lain,
·           Medang i Bhumi Mataram (zaman Sanjaya)
·           Medang i Mamrati (zaman Rakai Pikatan)
·           Medang i Poh Pitu (zaman Dyah Balitung)
·           Medang i Bhumi Mataram (zaman Dyah Wawa)
·           Medang i Tamwlang (zaman Mpu Sindok)
·           Medang i Watugaluh (zaman Mpu Sindok)
·           Medang i Wwatan (zaman Dharmawangsa Teguh)
Menurut perkiraan, Mataram terletak di daerah Yogyakarta sekarang. Mamrati dan Poh Pitu diperkirakan terletak di daerah Kedu. Sementara itu, Tamwlang sekarang disebut dengan nama Tembelang, sedangkan Watugaluh sekarang disebut Megaluh. Keduanya terletak di daerah Jombang. Istana terakhir, yaitu Wwatan, sekarang disebut dengan nama Wotan, yang terletak di daerah Madiun.

C.      Sumber-sumber Sejarah Kerajaan Medang Kamulan
Sumber-sumber sejarah yang menyebutkan keberadaan kerajaan Medang, sumber-sumber ini dalam bentuk candi dan prasasti antara lain
1.     Prasasti Mantyasih yaitu Prasasti Mantyasih tahun 907 atas nama Dyah Balitung menyebutkan dengan jelas bahwa raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu) adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Sanjaya sendiri mengeluarkan prasasti Canggal tahun 732, namun tidak menyebut dengan jelas apa nama kerajaannya. Ia hanya memberitakan adanya raja lain yang memerintah pulau Jawa sebelum dirinya, bernama Sanna. Sepeninggal Sanna, negara menjadi kacau. Sanjaya kemudian tampil menjadi raja, atas dukungan ibunya, yaitu Sannaha saudara perempuan Sanna.
2.    Prasasti Sanggurah merupakan prasasti berangka tahun 982 Masehi yang ditemukan di daerah Malang dan menyebut nama penguasa daerah itu, Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga (Dyah Wawa). Prasasti berbentuk tablet ini disebut juga Prasasti Minto karena dihadiahkan oleh Raffles kepada Lord Minto, keduanya pernah memimpin Hindia Belanda ketika Britania Raya menguasai Belanda pada dasawarsa kedua abad ke-19.
3.       Prasasti dinoyo  yaitu prasasti yang ditemukan terputus menjadi tiga  bagian. Bagian yang tengah di temukan di Desa Dinoyo, sedang dibagian atas dan bagian bawah ditemukan di Desa Merjosari, kira-kira 2 Km  disebelah barat Dinoyo. Mengingat kasus di gunung Wukir dan prasasti Canggal, mungkin sekali prasasti Dinoyo ini asalnya justru dari Merjosari, yang memangternyata menghasilkan sisa-sisa bangunan. De casparis menduga bahwa batu prasasti itu berasal dari Desa Kejuron, pendapat ini mungin kurang dapat diterima karena Kejuron mungkin justru merupakan pusat kerajaan, sedang prasasti tentulah tidak didirikan dipusat kerajaan, tetapi di dekat candinya.
4.      Prasasti Wantil, Mpu Manuku membangun ibu kota baru di desa Mamrati sehingga ia pun dijuluki sebagai Rakai Mamrati. Istana baru itu bernama Mamratipura, sebagai pengganti ibu kota yang lama, yaitu Mataram.Prasasti Wantil disebut juga prasasti Siwagreha yang dikeluarkan pada tanggal 12 November856. Prasasti ini selain menyebut pendirian istana Mamratipura, juga menyebut tentang pendirian bangunan suci Siwagreha, yang diterjemahkan sebagai Candi Siwa.
Selain meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Kerajaan Mataram/Medang juga membangun banyak candi, baik itu yang bercorak Hindu maupun Buddha. Temuan Wonoboyo berupa artifak emas yang ditemukan tahun 1990 di Wonoboyo, Klaten, Jawa Tengah; menunjukkan kekayaan dan kehalusan seni budaya kerajaan Mataram.
Candi-candi peninggalan Kerajaan Medang antara lain, Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Mendut, Candi Pawon, dan tentu saja yang paling kolosal adalah Candi Borobudur. Candi megah yang dibangun oleh Sailendrawangsa ini telah ditetapkan UNESCO (PBB) sebagai salah satu warisan budaya dunia.

D.      Sistem Pemerintahan Kerajaan Medang Kamulan
Di dalam prasasti Mantyasih, Desa Mantyasih disebut sima kapatiihan karena yang mendapat anugrah adalah lima orang patih di Mantyasih, didalam prasasti Sangguran disebut sima kajurugusalyan di Mananjung, karena ada jabatan juru gusali, yaitu ketua para pandai besi, didalam prasasti Balingawan disebut sima kamulan, karena semula Desa Balingawan itu selalu diganggu oleh penjahat sehingga penduduk sering membayar denda atas pembunuhan gelap dan perkelahian gelap yang mengakibatkan seseorang menderita luka-luka. Di dalam prasasti telang ada istilah kamulan dan rumah kamulan yang jelas tidak ada hubungan dengan tempat pemujaan cikal bakal Desa telang, karena menjadi pokok pembicaraan dalam prasasti itu ialah tempat penyeberangan.
Berdasarkan itu semua dapat disimpulkan disini bahwa Desa Bhumisambhara itu ialah sima kamulan karena dianugrahkan kepada pejabat mula. Saying sekali hingga sekarang belum jelas apa tugas seorang mula dalam masyarakat jawa kuno. Didalam prasasti Mantyasih tersebut tertulis daftar raja-raja Medang yang telah berkuasa dalam setiap masa pemerintahannya.daftar raja-raja tersebut sebagai berikut:
1.       Sanjaya, pendiri Kerajaan Medang (Karya Candi Canggal/Penganut Hindu Syiwa)
2.       Rakai Panangkaran, awal berkuasanya Wangsa Sailendra(Membangun Candi Borobudur, sebagai penganut budha mahaya" dinasti berpindah agama dari leluhurnya yang hindu syiwa")membangun juga candi Kalasan, sebagai pengormatan leluhur").
3.    Rakai Panunggalan alias Dharanindra Menaklukkan Sriwijaya bahkan sampai ke kamboja dan campa berjuluk Wirawairimathana (penumpas musuh perwira)
4.    Rakai Warak alias Samaragrawira Ayah dari Balaputradewa raja Sriwijaya Wirawairimathana (penumpas musuh perwira)
5.        Rakai Garung alias Samaratungga Sri Maharaja Samarottungga
Rakai Garung alias Samaratungga Sri Maharaja Samarottungga atau kadang ditulis Samaratungga, adalah raja Sriwijaya Wangsa Syailendra yang memerintah pada tahun 792 – 835. Tidak seperti pendahulunya yang ekspansionis, pada masa pemerintahannya, Sriwijaya lebih mengedepankan pengembangan agama dan budaya. Pada tahun 825, dia menyelesaikan pembangunan candi Borobudur yang menjadi kebanggaan Indonesia.
Untuk memperkuat aliansi antara wangsa Syailendra dengan penguasa Sriwijaya terdahulu, Samaratungga menikahi Dewi Tara, putri Dharmasetu. Dari pernikahan itu Samaratungga memiliki seorang putra pewaris tahta, Balaputradewa, dan Pramodhawardhani yang menikah dengan Rakai Pikatan, putra Sri Maharaja Rakai Garung, raja kelima Kerajaan Medang.
6.        Rakai Pikatan suami Pramodawardhani
Awal kebangkitan Wangsa Sanjaya  (Candi Prambanan) Rakai Pikatan terdapat dalam daftar para raja versi prasasti Mantyasih. Nama aslinya menurut prasasti Argapura adalah Mpu Manuku. Pada prasasti Munduan tahun 807 diketahui Mpu Manuku menjabat sebagai Rakai Patapan. Kemudian pada prasasti Kayumwungan tahun 824 jabatan Rakai Patapan dipegang oleh Mpu Palar. Mungkin saat itu Mpu Manuku sudah pindah jabatan menjadi Rakai Pikatan. Akan tetapi, pada prasasti Tulang Air tahun 850 Mpu Manuku kembali bergelar Rakai Patapan. Sedangkan menurut prasasti Gondosuli, Mpu Palar telah meninggal sebelum tahun 832. Kiranya daerah Patapan kembali menjadi tanggung jawab Mpu Manuku, meskipun saat itu ia sudah menjadi maharaja. Tradisi seperti ini memang berlaku dalam sejarah Kerajaan Medang di mana seorang raja mencantumkan pula gelar lamanya sebagai kepala daerah, misalnya Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung.
7.        Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala
Menurut prasasti Wantil atau prasasti Siwagerha tanggal 12 November 856, Dyah Lokapala naik takhta menggantikan ayahnya, yaitu Sang Jatiningrat (gelar Rakai Pikatan sebagai brahmana). Pengangkatan putra bungsu sebagai raja ini didasarkan pada jasa kepahlawanan Dyah Lokapala dalam menumpas musuh ayahnya, yang bermarkas di timbunan batu di atas bukit Ratu Baka. (Pusat kerajaan tidak lagi di mataram tapi di mamratipu
8.        Rakai Watuhumalang
Rakai Pikatan memiliki beberapa orang anak, antara lain Rakai Gurunwangi (prasasti Plaosan) dan Rakai Kayuwangi (prasasti Argapura). Sedangkan Rakai Watuhumalang mungkin juga putra Rakai Pikatan atau mungkin menantunya. akhir periode rakai pikatan terjadi perpecahan di Kerajaan Medang akibat perebutan kuasa antara Gurunwangi dan kayuwangi namun sepeninggal kayuwangi Watuhumalang yang menduduki tahta. 
9.        Rakai Watukura Dyah Balitung
Rakai Watuhumalang memiliki putra bernama Mpu Daksa (prasasti Telahap) dan menantu bernama Dyah Balitung (prasasti Mantyasih). Dyah Balitung inilah yang mungkin berhasil menjadi pahlawan dalam menaklukkan Rakai Gurunwangi dan Rakai Limus sehingga takhta pun jatuh kepadanya sepeninggal Rakai Watukura.
Pada akhir pemerintahan Dyah Balitung terjadi persekutuan antara Mpu Daksa dengan Rakai Gurunwangi (prasasti Taji Gunung). Kiranya pemerintahan Dyah Balitung berakhir oleh kudeta yang dilakukan kedua tokoh tersebut. memindahkan pusat pemerintahan kerajaan medang dari mamratipura ke poh-pitu(sekitar kedu)
10.    Mpu Daksa
Mpu Daksa naik takhta menggantikan Dyah Balitung yang merupakan saudara iparnya. Hubungan kekerabatan ini berdasarkan bukti bahwa Daksa sering disebut namanya bersamaan dengan istri Balitung dalam beberapa prasasti. Selain itu juga diperkuat dengan analisis sejarawan Boechari terhadap berita Cina dari Dinasti TangTat So Kan Hiung, yang artinya “Daksa, saudara raja yang gagah berani”
11.    Rakai Layang Dyah Tulodong
Dyah Tulodhong dianggap naik takhta menggantikan Mpu Daksa. Dalam prasasti Ritihang yang dikeluarkan oleh Mpu Daksa terdapat tokoh Rakryan Layang namun nama aslinya tidak terbaca. Ditinjau dari ciri-cirinya, tokoh Rakryan Layang ini seorang wanita berkedudukan tinggi, jadi tidak mungkin sama dengan Dyah Tulodhong. Mungkin Rakryan Layang adalah putri Mpu Daksa. Dyah Tulodhong berhasil menikahinya sehingga ia pun ikut mendapatkan gelar Rakai Layang, bahkan naik takhta menggantikan mertuanya, yaitu Mpu Daksa. Dalam prasasti Lintakan Dyah Tulodhong disebut sebagai putra dari seseorang yang dimakamkan di Turu Mangambil.
12.    Rakai Sumba Dyah Wawa
Dalam prasasti Wulakan tanggal 14 Februari 928, Dyah Wawa mengaku sebagai anak Kryan Landheyan sang Lumah ri Alas (putra Kryan Landheyan yang dimakamkan di hutan). Nama ayahnya ini mirip dengan Rakryan Landhayan, yaitu ipar Rakai Kayuwangi yang melakukan penculikan dalam peristiwa Wuatan Tija.
13.    Mpu Sindok, awal periode Jawa Timur
Istana Kerajaan Medang pada awal berdirinya diperkirakan terletak di daerah Mataram (dekat Yogyakarta sekarang). Kemudian pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dipindah ke Mamrati (daerah Kedu). Lalu, pada masa pemerintahan Dyah Balitung sudah pindah lagi ke Poh Pitu (masih di sekitar Kedu). Kemudian pada zaman Dyah Wawa diperkirakan kembali ke daerah Mataram. Mpu Sindok kemudian memindahkan istana Medang ke wilayah Jawa Timur sekarang. Dalam beberapa prasastinya, ia menyebut kalau kerajaannya merupakan kelanjutan dari Kerajaan Medang di Jawa Tengah. Misalnya, ditemukan kalimat berbunyi Kita prasiddha mangraksa kadatwan rahyangta i Bhumi Mataram i Watugaluh.
14.    Sri Lokapala suami Sri Isanatunggawijaya
Sri Isyana Tunggawijaya merupakan putri dari Mpu Sindok, yaitu raja yang telah memindahkan istana Kerajaan Medang dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur. Tidak banyak diketahui tentang masa pemerintahannya. Suaminya yang bernama Sri Lokapala merupakan seorang bangsawan dari pulau Bali. Peninggalan sejarah Sri Lokapala berupa prasasti Gedangan tahun 950 yang berisi tentang anugerah desa Bungur Lor dan desa Asana kepada para pendeta Buddha di Bodhinimba. Namun, prasasti Gedangan ini merupakan prasasti tiruan yang dikeluarkan pada zaman Kerajaan Majapahit untuk mengganti prasasti asli yang sudah rusak.
Prasasti atau piagam dianggap sebagai benda pusaka yang diwariskan secara turun-temurun. Apabila prasasti tersebut mengalami kerusakan, ahli waris biasanya memohon kepada raja yang sedang berkuasa untuk memperbaharuinya. Prasasti pembaharuan ini disebut dengan istilah prasasti tinulad. Tidak diketahui dengan pasti kapan pemerintahan Sri Lokapala dan Sri Isyana Tunggawijaya berakhir. Menurut prasasti Pucangan, yang menjadi raja selanjutnya adalah putra mereka yang bernama Sri Makuthawangsawardhana.
15.    Makuthawangsawardhana
Jalannya pemerintahan Makutawangsawardhana tidak diketahui dengan pasti. Namanya hanya ditemukan dalam prasasti Pucangan sebagai kakek Airlangga. Disebutkan bahwa, Makutawangsawardhana adalah putra pasangan Sri Lokapala dan Sri Isana Tunggawijaya putri Mpu Sindok.
Prasasti Pucangan juga menyebut Makutawangsawardhana memiliki putri bernama Mahendradatta, yaitu ibu dari Airlangga. Dalam prasasti itu juga disebut adanya nama seorang raja bernama Dharmawangsa, namun hubungannya dengan Makutawangsawardhana tidak dijelaskan.
16.    Dharmawangsa Teguh, Kerajaan Medang berakhir
Prasasti Pucangan tahun 1041 dikeluarkan oleh raja bernama Airlangga yang menyebut dirinya sebagai anggota keluarga Dharmawangsa Teguh. Disebutkan pula bahwa Airlangga adalah putra pasangan Mahendradatta dengan Udayana raja Bali. Adapun Mahendradatta adalah putrid Makuthawangsawardhana dari Wangsa Isana. Airlangga sendiri kemudian menjadi menantu Dharmawangsa.

E.       Keadaan masyarakat
Di dalam struktur pemerintahan kerajaan-kerajaan kuno, raja(sri maharaja) ialah penguasa tertinggi.sesuai dengan landasan kosmogonis,raja ialah penjelmaan dewa di dunia. Hal itu ternyata dari gelar abhiseka dan pujian-pujian kepada raja didalam berbagai prasasti dan kitab-kitap susastra Jawa kuno sejak raja Airlangga. Dari zaman Mataram kuno hanya ada dua orang raja yang bergelar abhiseka dengan unsure tunggadewa, yaitu Bhujayotunggadewa didalam prasasti dari Candi Plaosan Lor dan Rakai Layang Dyah Tulodong Sri Sajjanasanmatanuragatungadewa. Didalam kerajaan Mataram secara khusus menganut suatu landasan kosmogonis yaitu kepercayaan akan arus adanya suatu keserasian antara dunia manusia ini ( mikrokosmos) dengan alam semesta (mikrokosmos).
Di sini  akan disajikan gambaran besarnya saja dalam garis besarnya saja, dimulai dengaan golongan elite ditingkat pusat. Di ibu kota kerajaan, yang menurut berita-berita cina dikelilingi oleh dinding, baik dari batu bata maupun dari batang-batang kayu, terdapat istana raja yang juga dikelilingi oleh dinding. Didalam istana itulah berdiam raja dan keluarganya, yaitu permaisuri, selir selir, dan anak-anaknya yang belum dewasa, dan para hamba istana(hulun haji, watek I jro). Diluar istana, masih didalam lingkungan dindinga kota, terdapat kediaman putra mahkota (rake hino), dan tiga orang adiknya (rakai hulu, rakai sirikan dan rakai wra), dan kediaman para pejabat tinggi kerajaan.
Di lingkungan tembok ibu kota kerajaan tinggal kelompok elite dan non-elite, raja dan keluarganya mengmbil tempat tersendiri. Hungungan antara raja secara langsung dengan kelompok non-elite sulit terlaksana, sedang dengan kelompok elite birokrasi saja hubungan itu henya terjadi secara formal.
Di dalam landasan Kosmogonis masyarakat yaitu menurut kepercayaan ini manusia selalu berada dibawah pengaruah kekuatan-kekuatan yang terpancar dari bintang-bintang dan planet-planet. Kekuatan itu dapat membawa kebahagian , kesejahteraan , dan perdamaian atau bencana kepada manusia, tergantung dari dapat atau tidaknya individu , kelompok-kelompok sosial, terutama kerajaan,menyerasikan hidup dan semua kegiatannya dengan gerak alam semesta.
Agama resmi Kerajaan Medang pada masa pemerintahan Sanjaya adalah Hindu aliran Siwa. Ketika Sailendrawangsa berkuasa, agama resmi kerajaan berganti menjadi Buddha aliran Mahayana. Kemudian pada saat Rakai Pikatan dari Sanjayawangsa berkuasa, agama Hindu dan Buddha tetap hidup berdampingan dengan penuh toleransi. Didalam stratifikasi sosialnya masyarakat didalam kerajaan Medang masih menggunakan kasta-kasta didalam agama Hindu baik kedudukannya didalam struktur birokrasi maupun kedudukannya berdasarkan kekayaan materill.
Menurut ajaran agama Hindu , alam ini terdiri atas suatu benua pusat berbentuk lingkaran, yang bernama jambudwipa. Benua ini dilingkari oleh tujuh lautan dan tujuh daratan, dan semua itu di batasi oleh suatu pegunungan yang tinggi. Ditengah –tengah Jambudwipa berdiri gunung Meru sebagai pusat alam semesta. Matahari , bulan , dan bintang-bintang bergerak mengililingi Gunung Meru itu. Di Puncaknya terdapat kota dewa-dewa, yang di kelilingai oleh tempat tinggal ke delapan dewa penjaga mata angin (Lokapala).
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa seorang raja harus berpegang teguh kepada dharma, bersikap adil, menghukum yang bersalah dan memberikan anugrah kepada mereka yang berjasa( wnang wgraha anugraha), bijaksana, tidak boleh sewenang-wenangnya. Waspada terhadapgejolak dikalangan rakyatnya, berusaha agar rakyat senantiasa memperoleh rasa tentram dan bahagia, dan dapat memperlihatkan wibawanya dengan kekuatan angkatan perang dan harta kekayaannya.
Di bidang ekonomi penduduk Medang sejak periode Bhumi Mataram sampai periode Wwatan pada umumnya bekerja sebagai petani. Kerajaan Medang memangterkenal sebagai negara agraris, sedangkan saingannya, yaitu Kerajaan Sriwijaya merupakan negara maritim.
Di beberapa prasasti telah memberi keterangan akan adanya masyarakat yang mengenel ekonomi di wilayah kerajaan,di pedesaan pertama-tama sudah mengenal hasil bumi seperti beras, buah-buahan, sirih pinah, dan buah mengkudu. Juga hasil industry rumah tangga, seperti alat perkakas dari besi dan tembaga, pakaian, paying keeranjang dan barang-barang anyaman , kejang kepis, gula, arang, dan kapur sirih. Binatang ternak seperti kerbau, sapi, kambing , itik dan ayam serta telurnya juga diperjualbelikan.
Prasasti tidak menyebutkan komoditas ekspor, dan hanya ada satu barang yang mungkin diimpor yaitu kain buatan India (wdihan buat kling). Akan tetapi, data tentang masalah ekspor-impor itu diperoleh darr berita-berita Cina. Ekspor dari pelabuhan –pelabuhan di Jawa terdiri atas hasil bumi dan hutan Pulau Jawa sendiri dan dari Pulau-pulau yang lain, terutama dari Kaliimantan dan Indonesian bagian timur. Komoditas ekspor itu anatara lain garam yang di hasilkan dipantai utara Pulau Jawa, terutama didaerah Kembang dan Tuban , kain Katun dan Kapuk, Sutra tipis dan Sutra kuning, damas, kain brokat berwarna-warni, kulit penyu, pinang, pisang raja, gula tebu, kemukus, cula badak, mutiara, belerang, gaharu, kayu sepang, kayu cendana.,cengkeh, pala, marica, dammar, kapur barus dan lain-lainnya.

F.       Runtuhnya Kerajaan Medang Kumalang
Hancurnya Kerajaan Mataram Kuno dipicu permusuhan antara Jawa dan Sumatra yang dimulai saat pengusiaran Balaputradewa oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa yang kemudian menjadi Raka Sriwijaya menyimpan dendam terhadap Rakai Pikatan. Perselisihan antara kedua raja ini berkembang menjadi permusuhan turun-temurun pada generasi selanjutnya. Selain itu, Medang dan Sriwijaya juga bersaing untuk menguasai lalu lintas perdagangan di Asia Tenggara.
Rasa permusuhan Wangsa Sailendra terhadap Jawa terus berlanjut bahkan ketika Wangsa Isana berkuasa. Sewaktu Mpu Sindok memulai periode Jawa Timur, pasukan Sriwijaya datang menyerangnya. Pertempuran terjadi di daerah Anjukladang (sekarang Nganjuk, Jawa Timur) yang dimenangkan oleh pihak Mpu Sindok.
Runtuhnya Kerajaan Mataram ketika Raja Dharmawangsa Teguh yang merupakan cicit Mpu Sindok memimpin. Waktu itu permusuhan antara Mataram Kuno dan Sriwijaya sedang memanas. Tercatat Sriwijaya pernah menggempur Mataram Kuno tetapi pertempuran tersebut dimenangkan oleh Dharmawangsa. Dharmawangsa juga pernah melayangkan serangan ke ibu kota Sriwijaya. Pada tahun 1006 (atau 1016) Dharmawangsa lengah. Ketika ia mengadakan pesta perkawinan putrinya, istana Medang di Wwatan diserbu oleh Aji Wurawari dari Lwaram yang diperkirakan sebagai sekutu Kerajaan Sriwijaya. Dalam peristiwa tersebut, Dharmawangsa tewas.



BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Pada kerajaan di Jawa Tengah, Raja Wawa (924-929) serta merta tampil sebagai penguasa di jawa tengah, dibantu oleh pati sekaligus menantunya, Mpu Sindok, sangat toleran terhadap pemeluk agama Budha Mahayana ,serta Sang Hyang Kamahaniyanikan berhasil digubah kedalam Bahasa Jawa Kuno dari Bahasa Sanksekerta. Runtuhnya kerajaan Medang di akibatkan kerajaan Sriwijaya dibantu Raja Wurawuri dari semenanjung Melayu membalas serangan Dharmawangsa Teguh(1016).
Bukti-bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Kerajaan Mataram/Medang juga membangun banyak candi, baik itu yang bercorak Hindu maupun Buddha. Didalam prasasti Sangguran disebut sima kajurugusalyan di Mananjung, karena ada jabatan juru gusali, yaitu ketua para pandai besi, didalam prasasti Balingawan disebut sima kamulan. Didalam kerajaan Mataram secara khusus menganut suatu landasan kosmogonis yaitu kepercayaan akan arus adanya suatu keserasian antara dunia manusia ini (mikrokosmos) dengan alam semesta (mikrokosmos).

B.       Saran-saran
1.    Kami minta maaf pada pembaca bila isi makalah kami kurang jelas.
2.  Agar kita pahami sebab perpindahan Kerajaan Medang lebih luas kita harus membaca lebih banyak.
3.    Supaya lebih banyak tahu tentang Kerajaan Medang kita harus banyak bertanya. 


DAFTAR PUSTAKA

A.R.Abu Djahri.2004.Silsilah Raja-raja di Indinesia.Solo:Kraton Surakarta
F.D.K.BOSCH. 1952. Crivijaya, De Ceilendra en De Sajayavamca. Djakarta: Bratara
Marwati Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka
Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
Pranoedjoe Poespaningrat.2008.Kisah Para Leluhur dan yang Diluhurkan dari Mataram Kuno sampai Mataram Baru.Jakarta:Puslitbang
R.Ng. Poerbatjaraa.1952.Riwayat Indonesia I. Djakarta : Jajasan Pembangunan
https://notemuza.blogspot.com/2020/04/makalah-sejarah-indonesia-tentang_23.html, (Dikuti 23 April 2020)

No comments:

Post a Comment