Biarkan kata-kata aneh terbentuk, hanya menuangkan semuanya disini karna itu didalam pikirku

Wednesday, August 26, 2020

Makalah Seni Budaya Tentang "Seni Grafis"

 MAKALAH
Seni Budaya

“Seni Grafis”

D
I
S
U
S
U
N
OLEH:

KELOMPOK ....
1. .............................
2. .............................
3. .............................
4. .............................
5. .............................

SMA .....................................
TAHUN AJARAN 20.... - 20....


KATA PENGANTAR
 
Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu
 
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya kepada kami. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Seni Budaya ini dengan sebuah pembahasan tentang “Seni Grafis”.
 
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Serta ucapan terima kasih kepada guru pembimbing pelajaran Seni Budaya Yang terhormat Bapak/Ibu. dimana atas bimbingan beliau kami dapat menyelesaikan makalah ini.
 
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
 
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat serta referensi pembelajaran maupun inpirasi terhadap pembaca.
 
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu
 
Palembang,                  20.......
 
 
 
             Penyusun

 

BAB I
PENDAHULUAN
 
A.      Latar Belakang

      Perkembangan seni rupa kontemporer kini sudah mulai banyak memberikan dampak positif terhadap berbagai kalangan. Baik itu orang yang awam terhadap dunia seni rupa bahkan seniman-seniman sekalipun turut andil dalam meramaikan masa seni rupa kontemporer. Segala sesuatunya kini sudah menjadi sangat mudah dan dapat dilakukan oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun. Ini merupakan suatu kemajuan dunia seni rupa.
         Namun jika ada dampak positif maka dampak negatif pun perlu kita sortir sebagai bahan evaluasi. Contohnya saja dalam hal perkembangan seni murni, saat ini banyak orang yang mencampur-adukan bahkan mengubah image seni murni menjadi desain. Bisa saja hal ini dilakukan, karena termasuk ke dalam hal eksplorasi karya. Namun istilah seni murni itu sendiri sejalannya waktu akan pudar apabila istilah seni murni tidak diaplikasikan ke dalam praktiknya.
        Kita ambil salah satu bagian dari seni murni yaitu seni grafis. Banyak orang yang kerap kali lebih memilih mengerjakan suatu karya secara instan. Menggunakan berbagai teknologi mutakhir untuk mendapatkan hasil karya yang memuaskan “bagi dirinya”. Menganggap seni grafis merupakan sesuatu yang sudah “out of date”. Sungguh ironis bagi perkembangan seni grafis, karena akan menjadi lamban sejalan dengan berkembangnya seni rupa kontemporer. Menggunakan berbagai teknologi mutakhir untuk menyamakan dengan hasil karga seni grafis memang hasilnya terlihat sama, lebih rapih, bersih dan penuh eksplorasi warna. Namun nuansa rasa, goresan-goresan serta nilai estetis yang pada karya itu tidak nampak sama sekali, dan akan terasa berbeda dibandingkan karya grafis yang pengerjaannya manual.
       Ini merupakan suatu tantangan bagi para penggemar seni grafis untuk membangkitkan kembali gairah dunia grafis. Dengan cara memperkaya teknik pengerjaan, eksplorasi warna serta media yang digunakan. Agar nama seni grafis pada wilayah seni murni tidak akan pudar bahkan beralih ke wilayah desain. Oleh sebab itu penulis mengambil judul makalah ini “Eksplorasi Warna pada Cetak Grafis I dengan Tema Animal Figure
 
B.       Rumusan Masalah

Dari pemaparan latar belakang masalah di atas maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1.        Apa yang dimaksud dengan seni grafis?

2.        Bagaimana sejarah adanya seni grafis?

3.        Sebutkan macam-macam dari seni grafis?

4.        Sebutkan fungsi dari seni grafis?

5.        Sebutkan contoh seni grafis didalam kehidupan sehari-hari?

 
C.      Tujuan

1.        Untuk mengetahui definisi dari seni grafis.

2.        Untuk mengetahui sejara seni grafis didunia maupun di Indonesia.

3.        Untuk mengetahui macam-macam dan jenis dari seni grafis.

4.        Untuk mengetahui fungsi dari seni grafis.

5.        Untuk mengetahui conto seni grafis didalam kehidupan sehari-hari.

 

BAB II
PEMBAHASAN
 
A.       Pengertian Seni grafis

Seni grafis adalah sebuah cabang seni rumah dengan memanfaatkan teknologi dari komputer maupun teknik cetak. Dimana media percetakan tersebut yang digunakan biasanya menggunakan kertas atau kain. Seni grafis dapat dijumpai baik di majalah, Koran, pakaian maupun papan reklame.
Dimana seni grafis itu sendiri termasuk salah satu bagian seni rupa dengan konsep 2D atau dua dimensi. Seorang seniman grafis dapat berkarya menggunakan beragam media mulai dari cara tradisional sampai kontemporer, termasuk dari tinta air, cat air, tinta minyak, pigmen padat larut air dan pastel minyak.
 
B.       Sejarah Seni Grafis

Kesenian tidak muncul di era sekarang begitu saja. Ada banyak sejarah kemunculan dan perkembangan seni hingga mencapai ke titik ini. Untuk sejarah seni grafis sendiri, dibagi menjadi dua bagian. Yakni sejarah seni grafis di dunia dan sejarah seni grafis di Indonesia. Berikut ulasan lengkapnya:
 
a)   Sejarah Seni Grafis di Dunia

Jika biasanya seni rupa berasal dari peradapan Eropa, maka seni grafis berasal dari daratan Asia. Tepatnya berasal dari Daratan China sejak ditemukannya kertas. Sudah umum diketahui bahwa yang pertama kali menemukan kertas adalah bangsa Tiongkok pada Dinasti Ying tahun 105 M.
Pada awalnya, seni grafis digunakan untuk memperbanyak tulisan-tulisan keagamaan. Biasanya, naskah-naskah keagamaan itu diukir di atas kayu atau kertas. Dan tidak hanya China, naskah yang memiliki seni grafis dan diukir di atas kayu tersebut juga ditemukan di Jepang dan Korea. Biasanya, naskah-naskah ini memiliki karakteristik yang kuat, seperti mengandung kultur kebudayaan kuno dan tahan lama.
Kontribusi China dalam perkembangan seni grafis di dunia barat sangat besar, berkat penemuan kertas dan teknik wood block yang mereka kembangkan. Tapi, sebelum menemukan teknik wood block, ada beberapa fase lagi. Dari mulai fase mengukir di atas batu sampai ke penemuan kertas.
Pada tahun 165 M, para penganut Konfusius Klasik selalu menuliskan naskah keagamaannya dengan cara mengukir di atas batu untuk menjamin usia dokumen agar tahan lama. Pengukiran di atas batu juga dianggap sebagai cara yang akurat dalam menyimpan dokumen.
Tapi, karena buku batu ini sangat berat dan memakan banyak tempat untuk menyimpannya, maka  mulailah mereka menciptakan teknik wood block printing dalam menggandakan naskah keagamaannya. Teknik ini diduga mulai digunakan pada abad ke 6 hingga akhir abad ke 9. Hal ini disimpulkan dari penemuan kertas rami yang diperkirakan berasal dari tahu 650 sampai 670 M pada masa Dinasti Tang.
Wood block printing sendiri adalah teknik cetak yang didahului dengan mengukir dokumen ke atas blok kayu. Blok-blok kayu yang telah selesai diukir kemudian diberi tinta atau pewarna kemudian ditekankan ke atas kertas hingga gambar yang di blok kayu tersalin rapi ke atas kertas. Inilah awal mula berkembangnya seni grafis.
 
b)   Sejarah Seni Grafis di Indonesia
Sama seperti cabang seni lainnya, seni grafis mulai berkembang di Indonesia sejak kolonialisasi mulai masuk menjajah Indonesia, tapi yang paling berperan adalah kolonialisasi Belanda. Dalam masa penjajahan, pemerintah Belanda pernah meminta beberapa seniman asal negaranya untuk merekam pemandangan alam di Indonesia.
Semua rekaman tentang keindahan landscape Indonesia itu dibuat dalam bentuk lukisan yang beraliran romantisme. Beberapa juga diletakkan dalam teknik wood engraving maupun lithografi. Kegiatan merekam eksotisme alam Indonesia inilah yang mengenalkan masyarakat Indonesia ke seni grafis. Tetapi bukan caranya yang dikenal, melainkan hanya sebatas obrolan dengan orang asing saja.
Tetapi, ketika seni grafis sudah dipelajari dan dikenal lebih jauh, keberadaannya di Indonesia hanya dianggap sebagai seni kelas dua. Seni grafis sering kali dianggap sebagai seni yang hanya mendampingi seni lainnya, misalnya sebagai keterangan dalam pameran lukis dan sebagainya. Baru di sekitar tahun 1970-1980 lah ada beberapa pameran seni grafis tunggal. Dimana seni ini tidak lagi dipamerkan dalam rangkan ‘mendampingi’ seni patung atau seni lukis, melainkan telah mendapatkan tempatnya sendiri dalam sebuah pameran seni.
Pameran Seni Grafis ini diadakan di Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Dua tahun setelah pameran, barulah muncul keompok yang berkonsentrasi di seni grafis bernama Decenta. Di akhir tahun 1990 adalah masa perubahan besar terhadap seni grafis yang ada di Indonesia. Aliran post-modern yang semakin populer membuat banyak seniman latah dan membuat beberapa karya seni di tempat yang tidak lazim. Kemudian, dengan perkembangan teknologi, seni grafis didorong dan berkembang pesat hingga dikenal sesuatu yang disebut dengan desain grafis.
 
C.     Macam-Macam Seni Grafis dan Contohnya
 Berdasarkan teknisnya sendiri, terdapat beberapa macam seni grafis yang bisa kita jumpai di lingkungan sekitar, diantaranya :
 
1.   Cetak Dalam (Intaglio)

Cetak Intaglio merupakan teknik cetak yang timbul dengan cara menggoreskan atau menorehkan plat aluminium, dengan begitu membentuk sebuah gambar sesuai keinginan, lalu area yang telah tergores tadi diisikan oleh tinta lalu ditempelkan di kertas basah. Adapun hasilnya berbentuk cetakan timbul. Contoh dari pemakaian teknik intaglio yaitu uang kertas. Teknik ini memiliki beberapa sub-teknik lagi, yakni:
 
a)   Engraving
Teknik ini menggunakan burin sebagai alat utama penggunaan teknik dan penggunaan logam sebagai medianya. Cara pembuatannya adalah dengan mengukir logam menggunakan burin. Setelah ukiran selesai, oleskan cat ke seluruh permukaan logam, kemudian cat itu dibersihkan hingga hanya tersisa di bagian yang diukir saja. Setelah itu, ukiran yang masih memiliki cat dipress ke media cetak seperti kertas atau kain untuk mendapatkan motif ukirannya.
 
b)  Etsa
Etsa disebut juga dengan Etching adalah teknik cetak dalam yang menggunakan tembaga sebagai media ukir. Cara kerja teknik ini sebenarnya cukup mudah, yakni dengan menutupi seluruh permukaan tembaga dengan lilin. Setelah itu, permukaan lilin diukir dengan menggunakan jarum etsa yang tajam hingga nampak permukaan tembaganya.
Setelah permukaan tembaga tergores juga, rendam seluruh permukaan logam dengan cairan asam agar terjadi korosi pada permukaan yang tergores. Setelah terjadi korosi, bersihkan seluruh lilin lalu cetakkan saja ke media kertas dengan cara dipress dengan tekanan tinggi.
 
c)  Mezzotint
Teknik ini menggunakan alat khusus yang disebut dengan rocker. Cara kerjanya adalah dengan mengerok permukaan logam dan meninggalkan kesan gelap terang, gambar juga harus dibuat kasar di beberapa bagian. Teknik ini biasanya dipakai untuk mencetak foto.
 
d)  Drypoint
Teknik ini sebenarnya hampir sama dengan engraving, yakni dengan membuat ukiran di atas permukaan logam. Hanya saja yang digunakan untuk mengukir adalah alat runcing dan bukannya burin. Seniman yang memperkenalkan teknik ini adalah seniman Jerman dengan julukan Housebook Master pada abad ke 15 M.
 

2.   Stensil

Teknik mencetak memakai gunting kertas berdasarkan bentuk maupun tulisan sesuai keinginan, lalu kertas tadi ditempelkan pada kain maupun papan yang hendak diberi cat, lalu kertas tersebut di semprot atau dicat. Dengan begitu saat kertas dicabut, maka hasil cat dalam papan atau kain tampak seperti sudah digunting, Adapun contoh pemakaian teknik ini diantaranya papan peringatandan lain sebagainya.
 
3.   Relief

Cetak relief merupakan proses ketika lapisan timbul dalam lempengan cetakan maupun balok kayu dengan diberi tinta, sementara untuk area yang tersembunyi atau tidak timbul umumnya bebas tinta, jadi ketika ditempelkan bisa membentuk cetakan sesuai keinginan. Adapun contoh pemakaian teknik relief ini yaitu stempel.
 
4.   Cetak Saring (Silkscreen)

Cetak saring merupakan pengembangan cetak stensil dimana masih mempunyai kekurangan khususnya ketika mencetak huruf mempunyai kurva tertutup, misalnya d, e, o, maupun a. Teknik cetak ini biasa dinamakan teknik ablon. Pencetakan itu sendiri akan dilakukan lewat saringan yang sudah diberikan batasan berdasarkan bentuk atau huruf yang  hendak dicetak. Contoh dari pemakaian cetak saring ini yaitu kaos, spanduk dan paking makanan olahan UKM.
 
5.   Cetak Plano

Planographic printing atau cetak plano merupakan mencetak di lapisan datar. Teknik cetak ini mengunakan perbedaan dari sifat minyak dengan air yang tak saling menyatu. Dimana teknik tersebut sudah menginspirasi sebuah mesin cetak tipe offset memakai acuan pelat. Adapun contoh pemakaian teknik cetak ini yaitu mesin scanner dan fotokopi.
 
6.   Cetak Datar (Lithography)
Secara etimologi kata, lithography berasal dari bahasa Yunani, yakni Lithos dan graphein. Lithos berarti batu dan graphein berarti menulis. Sehingga, bisa diartikan bahwa lithography adalah seni cetak yang dituliskan di atas batu.
Untuk menggunakan teknik ini, seniman biasa membuat motif di atas batu (biasanya batu kapur yang sedikit lebih mudah dibentuk), kemudian mengolesnya dengan pewarna, dan setelah itu meletakkan media cetakan (biasanya kertas) ke atas ukiran yang telah diberi pewarna tersebut. Seniman yang menggunakan teknik ini adalah Pablo Picasso, Odilon Redon, Joan Miro, dan lain sebagainya.
 
7.   Cetak Tinggi (Woodcut)
Teknik woodcut biasa juga disebut dengan cetak timbul. Teknik ini digunakan untuk membuat gambar timbul pada permukaan media cetak. Jika ingin mengetahui contoh barang yang menggunakan cetak tinggi maka bisa melihat stempel.
Pada bagian bawah stempel selalu memiliki bagian yang telah dicetak timbul. Bagian ini nantinya adalah tempat peletakan tinta yang akan ditekankan pada kertas. Media yang populer untuk cetak timbul ini biasanya yang berbahan keras tetapi mudah dibentuk, seperti kayu, besi, karet, metal, triplek dan lain sebagainya.
Teknik cetak tinggi yang dianggap paling memiliki nilai sani adalah teknik woodcut yang dikenal pada abad ke 14 oleh koptik Mesir. Biasanya teknik ini digunakan untuk membuat motif pada kain tenun oleh orang Eropa. Salah satu seniman terkenal dalam bidang cetak tinggi ini adalah Johannes Guttenberg
 
8.   Kolagrafi

Teknik cetak kolagrafi merupakan teknik mencetak melalui penempelan objek dalam kanvas, kemudian keseluruhannya dibubuhi cat, lalu objek tersebut setelahnya dilepas. Adapun haslnya bagian yang tak dicat itu sendiri berbentuk objek tersebut dengan tampak cekung. Seni kolagrafi sendiri tak ada kaitannya dengan kolase walaupun kolagrafi terkesan mempunyai kata dasar dari kolase.
 
9.   Cetak Foto (Fotografi)

Fotografi  (dari bahasa Inggris: photography, yang berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu “Photos”: cahaya dan “Grafo”: Melukis) adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. Fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.
Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi ISO/ASA (ISO Speed), Diafragma (Aperture), dan Kecepatan Rana (Speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed disebut sebagai pajanan (Exposure). Di era fotografi digital dimana film tidak digunakan, maka kecepatan film yang semula digunakan berkembang menjadi Digital ISO.
 
D.     Fungsi Seni Grafis
 Dibanding kesenian lain, mungkin seni grafis memang memiliki fungsi yang lebih banyak ketimbang soal estetika dan nilai ekonomi. Seni grafis memiliki fungsinya sendiri, seperti di bawah ini:

 

1.)   Sebagai Media Komunikasi
Seni grafis memang biasa dibuat sebagai media komunikasi yang memiliki visual yang mencuri perhatian. Biasanya, ketika mengambil peran sebagai media komunikasi, seni grafis juga dilengkapi dengan kalimat yang menarik dan bukan hanya gambar. Media komunikasi yang menggunakan seni grafis sebagai medianya adalah slogan, banner, poster, dan lain sebagainya.
 

2.)   Sebagai Media Promosi

Seni grafis memang menjadi salah satu media promosi berbagai perusahaan dalam mengenalkan produknya. Seni grafis dipilih karena lebih informatif dan sekaligus eye catching ketika dilihat. Seni grafis seringnya menarik perhatian dan mata, sehingga penggunaannya dalam mengenalkan produk perusahaan akan semakin optimal.
 
3.)   Untuk Apresiasi Seni
Ini seperti mengembalikan seni grafis ke fungsi utamanya, yakni untuk media apresiasi seni. Biasanya, seni grafis yang satu ini lebih menonjolkan estetika seni untuk ditampilkan dan sering minim kata. Kreatifitas dan jiwa seni yang tinggi dibutuhkan untuk membuat desain grafis untuk apresiasi seni.

 

4.)   Menyalurkan Hobi

Bagi yang senang melakukan kegiatan kreatif, biasanya menyalurkan hobinya untuk membuat desain grafis. Karena dewasa ini, praktik pembuatan desain grafis lebih menarik dan lebih mudah untuk dipelajari.
 
5.)   Menambah Penghasilan
Ini menjadi fungsi komersil dan tidak dapat dihindari. Menekuni dunia seni grafis memang bisa menjadi salah satu sumber penghasilan. Karena dewasa ini, desain sudah semakin memiliki harga jual yang lumayan tinggi. Terutama untuk pembuatan sebagai media promosi atau untuk keperluan cover buku.
 
E.     Contoh Seni Grafis dalam Kehidupan Sehari-hari
a) Stempel
b) Banner
c) Poster
d) Sablon


BAB III
PENUTUP
 
A.      Kesimpulan
             Membuat karya grafis memang susah-susah tapi mudah. Susah apabila tergesa-gesa dan mudah apabila mengerjakannya dengan sabar dan menikmati prosesnya. Di dalam cetak grafispun tidak hanya satu warna saja yang dipakai, melainkan kita dapat memngolah warna-warna tersebut menjadi sebuah gradasi, sehingga tidak menjemukan ketika dilihat. Mungkin ini salah satu cara penulis untuk memberikan suatu stimulus bagi orang-orang yang mau belajar seni grafis dan mempertahankan eksistensinya di dunia seni murni. Penulis yakin orang-orang lain dapat lebih kreatif dengan berbagai cara, teknik dan media dalam membuat karya grafis agar tidak terkesan monoton.
 
B.      Saran
        Semoga bagi para pembaca dapat menggali lagi pengetahuan dan mengasah lagi keterampilan dalam membuat karya grafis. Dan meningkatkan kreativitas dalam membuat karya grafis. Semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membacanya.
 

DAFTAR PUSTAKA
 
www.wikipedia.com/seni-murni [29 Desember 2012]
www.wikipedia.com/seni-grafis [8 Januari 2013]
Hadjar, Saiful. 2005. Senapan Grafis. Kelompok Seni Rupa Bermain: Surabaya. [4 Januari 2017]
http://dimazzart.blogspot.com/2013/08/membuat-karya-grafis.html [4 Januari 2017]
http://makalah15.blogspot.com/2016/01/contoh-makalah-seni-grafis.html [26 Agustus 2020]
https://notemuza.blogspot.com/2020/08/makalah-seni-budaya-tentang-seni-grafis.html#more [26 Agustus 2020]

No comments:

Post a Comment