Biarkan kata-kata aneh terbentuk, hanya menuangkan semuanya disini karna itu didalam pikirku

Friday, November 11, 2022

Makalah Pendidikan Agama Islam Tentang “Menyebarkan Kebaikan Melalui Ihsan”

MAKALAH
Pendidikan Agama Islam
“Menyebarkan Kebaikan Melalui Ihsan”

D
I
S
U
S
U
N
OLEH:

KELOMPOK ....
1. .........................................
2. .........................................
3. .........................................
4. .........................................
5. .........................................

SMA/SMK ..........................................................
TAHUN AJARAN 20.... - 20....


KATA PENGANTAR
 
Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu
 
Dengan menyebut nama Allah Subhana Wa Ta’ala yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya kepada kami. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah pendidikan agama islam ini dengan sangat baik. Adapun judul makalah yang dibahas adalah  Menyebarkan Kebaikan Melalui Ihsan”.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Serta ucapan terima kasih kepada Bapak/Ibu, dimana atas bimbingan beliau kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat serta referensi pembelajaran maupun inspirasi terhadap pembaca.
 
Wassalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
 
...............,         ................... 20....
Penulis


Kelompok .....

 

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN COVER
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
B.   Rumusan Masalah
C.   Tujuan Makalah
D.   Manfaat Makalah

BAB II : PEMBAHASAN
A.   Pengertian Ihsan
B.   Wujud Atau Aspek Dalam Ihsan
C.   Kelebihan Dan Penghayatan Ihsan Dalam Kehidupan
D.   Hikmah Berbuat Ihsan
E.    Menyebarkan Kebaikan Melalui Ihsan

BAB III : PENUTUP
A.   Kesimpulan
B.   Saran

DAFTAR PUSTAKA
 

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat di mata Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia.
Latar belakang terbuatnya makalah ini karena banyaknya seorang muslim yang memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, yang  seharusnya dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian terbesar dari keislamannya. Karena, Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu iman, Islam, dan ihsan, seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassallam.
 
B.       Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka penulis akan merumuskan masalah pada makalah ini sebagai berikut:
1.        Bagaimana pengertian atau definisi ihsan?
2.        Bagaimana wujud dan aspek dalam ihsan?
3.        Bagaimana kelebihan dan penghayatan ihsan dalam kehidupan?
4.        Bagaimana hikma dalam berbuat ihsan?
5.        Bagaimana menyebarkan kebaikan melalui ihsan?
 
C.      Tujuan Makalah
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari makalah adalah sebagai berikut:
1.        Menjelaskan pengertian atau definisi ihsan.
2.        Mendiskripsikan wujud dan aspek dalam ihsan.
3.        Mendiskripsikan kelebihan dan penghayatan ihsan dalam kehidupan.
4.        Mengetahui hikma dalam berbuat ihsan.
5.        Mendiskripsikan dalam menyebarkan kebaikan melalui ihsan.
 
D.      Manfaat Makalah
Adapun manfaat dari penulisan atau pembahasan makalah Menyebarkan Kebaikan Melalui Ihsan ini adalah sebagai berikut:
1.       Bagi pembaca.
Dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi pembaca untuk menambah pengetahuan tentang Menyebarkan Kebaikan Melalui Ihsan.
2.       Bagi Penulis.
Dapat menjadi informasi berharga bagi para penulis guna menciptakan tulisan yang lebih bermanfaat bagi masyarakat dan pembaca untuk bisa mengetahui bagaimana Menyebarkan Kebaikan Melalui Ihsan.


  
BAB II
PEMBAHASAN
 
A.      Pengertian Ihsan

Ihsan  ( ناسحI ) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti “kesempurnaan” atau “terbaik.” Dalam terminologi agama Islam, Ihsan berarti seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya. Ihsan adalah lawan dari isa'ah (berbuat kejelekan), yaitu seorang manusia mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain. Mencurahkan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan harta, ilmu, kedudukan dan badannya.
Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu Iman,Islam, dan Ihsan. Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur`an mengenai hal ini:


Artinya: Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.(Al-Isra’: 7)


Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.(al-Qashash:77)

 
Ibnu Katsir mengomentari ayat di atas dengan mengatakan bahwa kebaikan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan kepada seluruh makhluk Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Ihsan adalah mashdar dari أَحْسَنَ يُحْسِنُ yang memiliki dua makna:
1.     Pertama, kata Ahsana itu bersifat transitif dengan sendirinya. Seperti ucapan: أَحْسَنْتُ كَذَا artinya adalah حَسَّنْتُهُ (aku membaguskannya) dan كَمَّلْتُهُ (aku menyempurnakannya).

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         
الإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Ihsan yaitu kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat kamu.” (HR. Muslim, Kitab Iman 1/37)

Makna ini kembali kepada membaguskan ibadah dan menyempurnakannya; melaksanakan ibadah sebagaimana yang dicintai oleh Allah dalam bentuk yang paling sempurna, dengan merasakan muraqabah Allah didalamnya, menghadirkan keagungan-Nya disaat memulai hingga mengakhirinya.
 
2.     Makna  kedua  adalah bersifat transitif dengan huruf jarr (إلى) seperti ucapan أَحْسَنْتُ إِلَى فُلاَنٍ artinya saya telah menyampaikan kebaikan atau manfaat kepadanya. Jadi maknanya adalah menyampaikan berbagai macam manfaat kepada makhluk, masuk kedalam makna ini berbuat baik (ihsan) kepada hewan.

 

B.       Wujud Atau Aspek Dalam Ihsan

Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah ibadah, muamalah, dan akhlak. Ketiga hal inilah yang menjadi pokok bahasan dalam ihsan adalah sebagai berikut:
1.         Ibadah
Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya, karena dengan inilah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan. Inilah maksud dari perkataan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam yang berbunyi,

Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. (HR. Muslim)

Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah luas. Maka, selain jenis ibadah yang kita sebutkan tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga jenis ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap mukmin, mendidik anak, menyenangkan isteri, meniatkan setiap yangmubah untuk mendapat ridha Allah, dan masih banyak lagi. Oleh karena itulah, Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam. menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yaitu senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.
 
2.         Muamalah
Dalam bab muamalah, ihsan dijelaskan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. pada surah An-Nisaa’ ayat 36, yang berbunyi sebagai berikut, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.”
Berikut ini adalah mereka yang berhak mendapatkan ihsan tersebut :
a.         Ihsan kepada kedua orang tua
b.        Ihsan kepada karib kerabat
c.         Ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin
d.        Ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat
e.        Ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya
f.         Ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia
g.        Ihsan dalam hal muamalah
h.        Ihsan dengan berlaku baik kepada binatang

3.         Akhlak
Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.
Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang “yang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya” maka kita akan menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah mengatakan dalam sebuah hadits, “Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia.”
 
C.      Kelebihan dan Penghayatan Ihsan Dalam Kehidupan
Adapun ciri-ciri Kelebihan Ihsan :
1.         Mentaati perintah dan larangan Allah SWT dengan ikhlas.
2.         Senantiasa amanah, jujur dan menepati janji.
3.         Merasakan nikmat dan haus akan ibadah.
4.         Mewujudkan keharmonisan masyarakat,
5.         Mendapat ganjaran pahala dari Allah SWT.

Cara Penghayatan Ihsan Dalam kehidupan :
1.         Menyembah dan beribadah kepada Allah.
2.         Memelihara kesucian aqidah tidak terbatal.
3.         Mengerjakan ibadah fardhu ain dan sunat.
4.         Hubungan baik dengan keluarga, tetangga dan masyarakat.
5.         Bersyukur atas nikmat Allah SWT.

 
D.      Hikmah Berbuat Ihsan
1.         Terbinanya hubungan vertikal antara hamba dengan penciptanya, yaitu Allah SWT.
2.         Terjalinnya hubungan baik antara anak dengan orang tuanya.
3.         Terjalinnya silaturrahmi dengan kerabat dan sanak saudara.
4.         Tertanamnya rasa empati kepada sesama umat manusia.
5.         Terciptanya lingkungan masyarakat yang harmonis dan saling peduli satu sama lainnya.
6.         Terjadinya simbiosis mutualisme antara manusia dengan alam sekitarnya.
7.         Terjaganya kelestarian alam semesta, baik di darat, air, maupun udara.

Intinya, semua yang ada di alam ini berhak mendapatkan perlakuan baik (ihsan) dari kita, sebagaimana ditegaskan Rasulullah SAW dalam sabdanya: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat Ihsan atas segala sesuatu…”(H.R. Muslim)
 
E.       Menyebarkan Kebaikan Melalui Ihsan
Ihsan kepada Allah SWT mengandung dua tingkatan, yaitu beribadah kepada Allah SWT seakan-akan Allah melihatnya dan beribadah dengan penuh keyakinan bahwa Allah SWT melihat segala apa yang dikerjakan oleh kita. Hakikat Ihsan ialah beribadah kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan dan merasakan adanya pengawasan Allah SWT dalam setiap gerak-gerik yang dilakukannya.
Berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan kewajiban seorang anak yang wajib ditunaikan. Ihsan kepada kedua orang tua bukan sekedar berbakti sebagai balas jasa, tetapi juga harus lebih dari itu. Sebab, Ihsan itu bermakna bersikap atau berbuat melebihi kadar yang diterima. Meski, dalam konteks kepada orang tua, tidak ada satu pun di dunia ini yang mampu membalas jasa dan kebaikan kedua orang tuanya.

Artinya: Dan (ingatlah) ketika kami mengambil janji dari Bani Israil : Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.” (Q.S. Al-Baqarah (2): 83)
 

Isi kandungan Q.S. Al-Baqarah (2) : 83 di antaranya:
1.     Saling menasihati, agar manusia mengabdi kepada Allah SWT, selalu berbuat baik kepada ora-ng tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang miskin.
2.     Mengingatkan bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua itu merupakan kewajiban yang ha-rus ditunaikan oleh setiap anak.
3.    Berbuat baik itu luas cakupannya, bukan hanya terkait beribadah kepada Allah SWT, tetapi melingkupi hubungan sosial kemasyarakatan. Hal ini berarti, menyebarkan kebaikan itu luas, seluas alam semesta ini, meski harus disadari bahwa objek kebaikan itu berurutan mulai dari diri sendiri, orang tua, kerabat terdekat, sampai dengan masyarakat sekitar.
4.       Bergaul dengan sesama manusia, harus mengedepankan sopan santun dan akhlak yang mulia.
5.       Harus ada keterkaitan antara dimensi ritual dan dimensi sosial.
6.       Sikap yang mencerminkan Q.S. Al-Baqarah (2) : 83 di antaranya:
a.  Mengabdi hanya kepada Allah SWT, berbuat baik kepada kedua orang tua, terus menebarkan kebaikan.
b.       Saat menasihati pergunakanlah tutur kata yang sopan, santun dan berakhlak mulia.
c.       Membalas kebaikan melebihi kadar yang diterima.
d.     Mau berbagi kebahagiaaan dan peduli terhadap penderitaan sesama, kaum dhuafa dan sia-pa pun yang membutuhkan.
e.       Terdapat hubungan yang erat antara keshalihan ritual dan keshaliahan sosial.
f.       Menghindari sikap yang mementingkan diri sendiri, sementara melupakan kondisi sosial d i sekitarnya.
g.      Berusaha tetap menyebarkan kebaikan untuk semua, tanpa melihat adanya perbedaan latar belakang dan status sosial seseorang.



 BAB III
PENUTUP
 
A.      Kesimpulan
Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya.  Dan juga sebagai  puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapapun kita, apapun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ketingkat ihsan dalam seluruh sisi dan nilai hidupnya.
 
B.       Saran

Demikian pemaparan makalah yang berjudul “Menyebarkan Kebaikan Melalui Ihsan” ini oleh penulis. Penulis sadar masih ada kekurangan dalam penulisannya. Untuk itu, penulis berharap kepada pembaca bersedia memberikan saran maupun kritik kepada penulis mengenai makalah ini. Meskipun demikian, penulis berharap makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.
 
 
DAFTAR PUSTAKA
 
http://itla4islam.blogspot.com/2012/09/pengertian-ihsan_14.html

No comments:

Post a Comment