Biarkan kata-kata aneh terbentuk, hanya menuangkan semuanya disini karna itu didalam pikirku

Wednesday, April 26, 2023

Makalah “Daerah Aliran Sungai (DAS)”

MAKALAH
"DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)"

D
I
S
U
S
U
N
OLEH:

KELOMPOK ....
1. .........................................
2. .........................................
3. .........................................
4. .........................................
5. .........................................

SMA/SMK ..........................................................
TAHUN AJARAN 20.... - 20....
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua. Kemudian shalawat besertakan salam kita sampaikan kepada junjungan alam kita Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari alam kebodohan kealam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti apa yang telah kita rasakan pada saat sekarang ini, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang bertemakan “Daerah Aliran Sungai”.
Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi. Mengingat akan kemampuan yang penulis miliki. Untuk itu dengan hati terbuka penulis menerima kritik dan saran dari semua pihak dengan harapan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada dosen/guru yang telah memberikan tugas dan petunjuk kapada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini.

Palembang,           Maret 2023
Penulis





.................................


DAFTAR ISI

 
HALAMAN COVER
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
1.2  Rumusan Masalah
1.3  Tujuan Penulisan
 
BAB II TINJAUN PUSTAKA
2.1  Daerah Aliran Sungai (DAS)
2.2  Konsep Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)
2.3  Karakteristik DAS
2.4  Inovasi Teknologi
2.5  Sistem Drainase
 
BAB III KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
Merupakan suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografi dan batas laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan (UU No 7 tahun 2004). Peraturan Pemerintah No 37 tahun 2012 menyatakan bahwa pengelolaan DAS merupakan upaya manusia dalam mengatur hubungan timbal balik antara sumber daya alam dengan manusia di dalam DAS dan segala aktifitasnya, agar terwujud kelestarian dan keserasian ekosistem serta meningkatnya kemanfaatan sumberdaya alam bagi manusia secara berkelanjutan. Pengelolaan DAS bertujuan untuk mencegah kerusakan dan memperbaiki yang rusak pada DAS.
Faktor manusia dan faktor alam merupakan faktor yang mempengaruhi kerusakan DAS. Faktor alam merupakan faktor yang disebabkan oleh alam, dapat berupa terjadinya bencana alam seperti gunung meletus dan tanah longsor, sedangkan faktor manusia merupakan faktor yang berasal dari manusia, manusia merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap ekosistem DAS. Kegiatankegiatan manusia dalam memanfaatkan lahan DAS seringkali melampaui batas. Kegiatan–kegiatan manusia yang dapat mengganggu fungsi DAS adalah penebangan pohon yang berlebihan atau penggundulan hutan, pembangunan pemukiman, alih fungsi lahan hutan menjadi lahan perkebunan dan lahan pertanian. Pertumbuhan jumlah penduduk juga mempengaruhi penggunaan lahan. Pertumbuhan penduduk yang semakin hari semakin meningkat menyebabkan meningkatnya kebutuhan lahan sebagai sarana bermukim.
Ketika kejadian banjir di suatu wilayah DAS meningkat secara luas yang menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi, hal ini sering kali dianggap sebagai satu hal buruk yang disebut sebagai bencana alam. Hal ini dapat diindikasikan sebagai ketidakmampuan ekosistem dalam memberikan layanan lingkungan sebagai akibat telah terjadi degradasi fungsi lingkungan dan daya dukung DAS (Paimin, Sukresno, & Purwanto, 2010; Lyytimäki, Petersen, Normander, & Bezák, 2008; Papaioannou, Vasiliades, & Loukas, 2015). Banjir hakekatnya merupakan salah satu kondisi hidrologi hasil luaran dari suatu DAS yang juga menjadi karakteristik DAS tersebut (Paimin et al., 2010; Paimin, Pramono, Purwanto, & Indrawati, 2012). Banjir bersifat sebagai karakteristik alami DAS manakala hanya dipengaruhi oleh faktor alami DAS, namun dapat bersifat sebagai karakteristik aktual DAS ketika dipengaruhi oleh faktor alami dan faktor manajemen (Paimin et al., 2010).
Kebutuhan akan lahan sebagai sarana bermukim penduduk menjadi kebutuhan yang vital untuk saat ini. Kegiatan pembangunan yang dilakukan manusia seringkali tidak memperhatikan 2 daya dukung lingkungan, sehingga mengakibatkan degradasi lahan, dan menurunkan kondisi fisik lahan tersebut, disisi lain sumber daya alam utama yaitu tanah dan air keduanya tersebut mudah mengalami kerusakan atau degradasi. Lahan kritis dapat didefinisikan sebagai lahan yang telah mengalami kerusakan, sehingga berkurang fungsinya baik fungsi tata air dan fungsi produksinya pada sampai batas yang ditentukan sehingga tanaman tidak mendapat cukup air dan unsur hara. Lahan kritis ditandai oleh rusaknya struktur tanah serta menurunnya kualitas dan kuantitas bahan organik. Dalam pengelolaan lahan, lahan perlu dikelola dengan teknologi konservasi yang benar untuk menjaga agar lahan terlindungi dari erosi, erosi bukan hanya merusak tanah namun juga dapat merusak tata air dalam daerah aliran sungai yang dapat menyebabkan lahan kritis. Kondisi ekosistem DAS merupakan salah satu isu nasional dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini dikarenakan salah satu variabel terjadinya banjir adalah kondisi DAS yang kritis. Pentingnya DAS sebagai satu unit perencanaan dan pengelolaan sumber daya alam yang telah diterima oleh berbagai pihak baik di tingkat nasional maupun tingkat regional, merupakan kesatuan ekosistem yang mencangkup hubungan timbal balik sumberdaya alam dan lingkungan DAS dengan kegiatan manusia guna kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. DAS Bagian hulu cenderung memiliki tingkat kerawanan akan terjadinya kekritisan lahan, mengingat wilayah yang memiliki kemiringan lereng lebih besar dari 8% yang cenderung miring hingga curam akan memungkinkan terjadinya erosi dan menurunkan tingkat kesuburan tanah karena material unsur hara yang hilang oleh air.
 
1.2       Rumusan Masalah
Dari pemaparan latar belakang diatas makalah rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut:

1.       Apa Konsep Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)

2.       Siapa-siapa Pihak yang Terlibat dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)

3.       Apa Peranan dari Pihak-pihak yang Terlibat dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)

 

1.3       Tujuan

 Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah :

1.  Mengetahui Konsep-konsep Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

2.  Mengetahui Karakteristik Aliran Sungai

3.  Mengetahui Pihak Yang terlibata dalam DAS

4.  Mengatahui Pihak yang Terlibat dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1       Daerah Aliran Sungai (DAS)
Daerah Aliran Sungai disingkat DAS ialah suatu kawasan yang dibatasi oleh titiktitik tinggi di mana air yang berasal dari air hujan yang jatuh, terkumpul dalam kawasan tersebut.Guna dari DAS adalah menerima, menyimpan, dan mengalirkan airhujan yang jatuh di atasnya melalui sungai. Air hujan yang dapat mencapai permukaan tanah, sebagian akan masuk (terserap) ke dalam tanah (infiltrasi), sedangkan air yang tidak terserap ke dalam tanah akan tertampung sementara dalam cekungan-cekungan permukaan tanah (surface detention) untuk kemudian mengalir di atas permukaan tanah ke tempat yang lebih rendah (runoff), untuk selanjutnya masuk ke sungai. Air infiltrasi akan tertahan di dalam tanah oleh gaya kapiler yang selanjutnya akan membentuk kelembaban tanah. Apabila tingkat kelembaban air tanah telah cukup jenuh maka air hujan yang baru masuk ke dalam tanah akan bergerak secara lateral (horizontal) untuk selanjutnya pada tempat tertentu akan keluar lagi ke permukaan tanah (subsurface flow) yang kemudian akan mengalir ke sungai. Batas wilayah DAS diukur dengan cara menghubungkan titik-titik tertinggi di antara wilayah aliran sungai yang satu dengan yang lain.
 
2.2       Konsep Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) secara Terpadu merupakan sebuah pendekatan holistik dalam mengelola sumberdaya alam yang bertujuan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam secara berkesinambungan. Di daerah dataran tinggi curah hujan yang jatuh akan mengalir dan berkumpul pada beberapa parit, anak sungai, dan kemudian menuju ke sebuah sungai. Keseluruhan daerah yang menyediakan air bagi anak sungai dan sungai-sungai tersebut merupakan daerah tangkapan air (Catchment area), dikenal sebagai Daerah Aliran Sungai (DAS).
DAS merupakan unit hydro-geologis yang meliputi daerah dalam sebuah tempat penyaluran air. Air hujan yang jatuh di daerah ini mengalir melalui suatu pola aliran permukaan menuju suatu titik yang disebut outlet aliran air.  Untuk tujuan pengelolaan dan perlindungan, DAS dibagi menjadi tiga bagian, yaitu DAS bagian hulu, DAS bagian tengah dan DAS bagian hilir. Daerah hulu merupakan daerah yang berada dekat dengan aliran sungai yang merupakan tempat tertinggi dalam suatu DAS, sedangkan daerah hilir adalah daerah yang dekat dengan jalan ke luar air bagi setiap DAS dan daerah tengah adalah daerah yang terletak di antara daerah hulu dan daerah hilir.
DAS memiliki aspek sosial yang kompleks. Sebagian penduduk yang memiliki tanah di DAS atau yang bergantung pada sumber DAS tidak tinggal di dalam DAS tersebut. Dengan kata lain ada petani yang tinggal di luar DAS, yang merupakan pemilik lahan pertanian yang terletak dalam suatu DAS atau penduduk yang memanfaatkan sumber daya alam ini. Ada petani yang tidak memiliki lahan garapan, dan ada petani yang memiliki lahan di beberapa DAS. Aspek sosial ini sangat berperan dalam pembentukan sebuah lembaga yang mengelola program DAS. Oleh karena itu, kompleksitas ini sangat penting untuk dipahami sebelum sebuah lembaga terbentuk
 
2.3       Karakteristik DAS
Karakteristik DAS sangat penting untuk diketahui dalam pengelolaan DAS. Hasil karakterisasi tersebut digunakan untuk melakukan diagnosis (identifikasi) dengan hasil berupa tingkat kerentanan dan potensi yang kemudian dipakai sebagai dasar klasifikasi DAS dan penyusunan perencanaan pengelolaan DAS (Paimin et al., 2012). Prediksi keadaan banjir menjadi salah satu karakter yang perlu diketahui untuk mengetahui respon hidrologi DAS yang terkait kuantitas dan kontinuitas hasil air (Paimin et al., 2010; Chang, 2009). Oleh karenanya dalam Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 2012 banjir dimasukkan dalam sub kriteria karakteristik DAS untuk menentukan klasifikasi DAS apakah termasuk DAS yang dipulihkan atau dipertahankan (Pemerintah Republik Indonesia, 2012).
Dengan mengetahui sifat atau karakteristik suatu DAS, maka pengelolaan DAS akan lebih terarah, efektif dan efisien. Untuk mengetahui karakteristik DAS tersebut dapat dilakukan dengan analisis Tipologi DAS. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional (2002), tipologi diartikan sebagai ilmu watak tentang bagian manusia dalam golongan-golongan menurut corak watak masing-masing. Pengertian tipologi tersebut diaplikasikan dalam pengelolaan DAS, terutama tipologi banjir, sebagai karakteristik DAS yang menunjukkan sifat rentan dan potensi suatu DAS terhadap banjir, baik kerentanan terhadap pasokan air banjir maupun kerentanan daerah kebanjiran (Paimin et al., 2012).
Informasi ataupun peta areal yang rentan terhadap banjir adalah penting digunakan untuk memonitor dan mengurangi resiko pencegahan dan penanggulangan terjadinya banjir (Ho, Yamaguchi, & Umitsu, 2013). Dengan mengetahui tingkat kerentanan pasokan air banjir dapat digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki daerah tangkapan air terutama bagian hulu DAS. Dengan diketahui daerah rentan bencana banjir atau kebanjiran maka akan diperoleh pedoman untuk merencanakan dan menerapkan teknik penanggulangan banjir di bagian hilir, seperti tanggul dan polder. Selain hal tersebut, peta daerah rawan kebanjiran juga dapat dipergunakan sebagai dasar dalam melakukan peringatan dini sehingga dampak bencana banjir dapat diperkecil. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi daerah-daerah yang rentan kebanjiran dan tingkat kerentanan pasokan air banjir di DAS Musi sebagai dasar untuk mitigasi bencana banjir.
 
2.4       Inovasi Teknologi
Pengolahan Sampah Terpadu Sampah adalah kumpulan berbagai material buangan yang merupakan sisa proses dan kegiatan kehidupan manusia. Saat ini, penanganan sampah masih sebatas pada penanganan yang konvensional yaitu sampah dibuang di Sungai Cikapundung, secara terbuka, untuk dibiarkan membusuk dengan sendirinya. Akibatnya, sampah tersebut menjadikan sumber polusi udara karena baunya, dan polusi air yang dikarenakan penanganan air lindinya (leacheate) kurang bagus sehingga meresap kemana-mana, serta menjadi penyebab terjadinya wabah penyakit dan juga sebagai salah satu penyebab terjadinya banjir. Inilah salah satu bentuk masalah yang ditimbulkan apabila sampah tersebut tidak ditangani segera dan secara sistematis, yang mencakup: Tempat penumpukan sampah yang datang, sortasi, composting, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dan Incinerator (KNRT, 2010).
Reboisasi dan Penghijauan Laju peresapan air ke dalam tanah sangat dipengaruhi oleh tingkat kelebatan vegetasi pada tanah tersebut. Oleh sebab itu, vegetasi pada kawasan hutan harus dijaga dengan cara reboisasi pada kawasan hutan yang gundul serta pencegahan pembalakan pada hutan yang telah lebat. Pada kawasan perkebunan serta lahanlahan kosong lainnya dilakukan penghijauan sehingga peresapan air ke dalam tanah dapat berlangsung optimal. Penghijauan adalah suatu kegiatan yang mengandung dua tujuan pokok yang saling berkaitan erat (Notohadiprawiro, 1981), yaitu: (1) Memasukkan gatra ekologi atau pelestarian lingkungan dalam usahatani dan dalam membina daerah pemukiman; dan (2) Meningkatkan produktivitas usahatani dan pekarangan serta membuat nyaman lingkungan tempat tinggal. Oleh karena itu, penghijauan merupakan unsur tata guna lahan, serta berciri tempat dan waktu. Hakekat penghijauan adalah metode biologi untuk pembenahan tata guna lahan. Metode mekanik yang sering disertakan dalam penghijauan, yaitu penyengkedan dan pengundakan lereng, sderta pembuatan saluran pembuang air turah dari aliran permukaan, merupakan usaha pendukung atau pelenglap. Penghijauan dengan menggunakan konsep ”agroforestry”, yaitu sistem pengelolaan lahan yang mantap yang mampu meningkatkan hasil panen dengan jalan menggabungkan penghasilana pertanaman, termasuk tanaman pohon, dan ternak pada sebidang lahan yang sama dan pengelolaannya selaras dengan kebiasaan yang dikerjakan oleh penduduk setempat.
 
2.5       Sistem Drainase
Menurut Abdeldayem (2005) drainase adalah suatu proses alami, yangdiadaptasikan manusia untuk tujuan mereka sendiri, mengarahkan air dalam ruangdan waktu dengan memanipulasi ketinggian muka air. Sedangkan menurut Suhardjono (2013) drainase adalah suatu tindakan untuk mengurangi air yang berlebih, baik itu air permukaan maupun air bawah permukaan.Air berlebih yang umumnya berupa genangan disebut dengan banjir.
Sistem jaringan drainase merupakan bagian dari infrastruktur pada suatu kawasan, drainase masuk pada kelompok infrastruktur air pada pengelompokkan infrastruktur wilayah, selain itu ada kelompok jalan, kelompok sarana transportasi, kelompok pengelolaan limbah, kelompok bangunan kota, kelompok energi dan kelompok telekomunikasi (Suripin, 2004). Air hujan yang jatuh di suatu kawasan perlu dialirkan atau dibuang, caranya dengan pembuatan saluran yang dapat menampung air hujan yang mengalir di permukaan tanah tersebut.Sistem saluran di atas selanjutnya dialirkan ke sistem yang lebih besar.Sistem yang paling kecil juga dihubungkan dengan saluran rumah tangga dan sistem saluran bangunan infrastruktur lainnya, sehingga apabila cukup banyak limbah cair yang berada dalam saluran tersebut perlu diolah (treatment). Seluruh proses tersebut di atas yang disebut dengan sistem drainase (Kodoatie, 2003)

BAB III
PENUTUP
 
3.1       Kesimpulan
Pengelolaan DAS terpadu mengandung pengertian bahwa unsur-unsur atau aspek-aspek yang  menyangkut kinerja DAS dapat dikelola dengan optimal sehingga terjadi sinergi positif yang  akan meningkatkan kinerja DAS dalam menghasilkan output, sementara itu karakteristik yang  saling bertentangan yang dapat melemahkan kinerja DAS dapat ditekan sehingga tidak  merugikan kinerja DAS secara keseluruhan.
 
3.2       Saran
Demikian pemaparan makalah yang berjudul “Daerah Aliran Sungai” ini oleh penulis. Penulis sadar masih ada kekurangan dalam penulisannya. Untuk itu, penulis berharap kepada pembaca bersedia memberikan saran maupun kritik kepada penulis mengenai makalah ini. Meskipun demikian, penulis berharap makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

 
DAFTAR PUSTAKA

Abdeldayem, S. 2005. Agricultural Drainage : Towards an Integrated Approach, Irrigation and Drainage Systems. 19:71-87
Budiman  RA.  2013.  Partisipasi  dan  Persepsi  Masyarakat  dalam Upaya Menjaga Mengelola Lingkungan Hidup dan  Mempertahankan  Predikat  Kota  Bersih.  Jurnal  Ilmu Lingkungan. Tanjung Pinang Kepulauan Riau
Ho, L. T. K., Yamaguchi, Y., & Umitsu, M. (2013). Delineation of small-scale landforms relative to flood inundation in the western Red River delata, northern Vietnam using remotely sensed data. Natural Hazards, 69(1), 905–917. Indonesia, P. R.
Kodoatie, Robert J., 2003, Manajemen dan Rekayasa Infrastruktur, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Notohadiprawiro, T. 1981. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Program Penghijauan. Makalah disampaikan pada Kuliah Penataran Perencanaan Pembangunan Perdesaan dan Pertanian. Yogyakarta: Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada.
KNRT. 2010. Seratus Inovasi Indonesia. Jakarta: Kementrian Negara Riset dan Teknologi.
Suripin. 2004. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. ANDI Offset Yogyakarta.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Pub. L. No. 5292 (2012). Republik Indonesia
Paimin, Pramono, I. B., Purwanto, & Indrawati, D. R. (2012). Sistem perencanaan pengelolaan daerah aliran sungai. (H. Santoso & Pratiwi, Eds.). Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi.
Paimin, Sukresno, & Purwanto. (2010). Sidik cepat degradasi sub daerah aliran sungai. (A. N. Gintings, Ed.) (2nd ed.). Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi.

No comments:

Post a Comment