Biarkan kata-kata aneh terbentuk, hanya menuangkan semuanya disini karna itu didalam pikirku

Thursday, January 21, 2021

Makalah Pengantar Energi Tentang "Coal Upgrading (Upgrading Batubara)

MAKALAH
Pengantar Energi
“Coal Upgrading/Upgrading Batubara”
 
D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
 
       Nama                             : ..................................
       NIM                                : ..................................
 
       Dosen Pembimbing      : ..................................
 
UNIVERSITAS / SEKOLAH TINGGI ILMU ......................
JURUSAN ......................
FAKULTAS ....................................
TAHUN AJARAN 20.... - 20....


KATA PENGANTAR
 
Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu
 
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya kepada kami. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Pengantar Energi ini dengan sebuah pembahasan tentang “Upgrading Batubara”.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Serta ucapan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Pengantar. dimana atas bimbingan beliau kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat serta referensi pembelajaran maupun inpirasi terhadap pembaca.
 
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu
 
 
Palembang,     .......................... 20....

 

 

 

              Penyusun


DAFTAR ISI
 
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
BAB I
PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang
1.2        Rumusan Masalah
1.3        Tujuan
1.4        Manfaat
BAB II
DASAR TEORI
2.1        Pengertian Upgrading Batubara (Coal Upgrading)
2.2        Manfaat Upgrading Batubara
2.3     Proses Upgrading Brown Coal
BAB III
PEMBAHASAN
3.1        Definisi Batubara dan Upgraded Brown Coal  (UBC)
3.2        Proses UBC (Upgrading Brown Coal)
3.3        Pilot Plant UBC (Upgrading Brown Coal) Palimanan
3.4        Peralatan Utama
3.5        Peralatan Pendukung
3.6        Hasil Percobaan
3.7        Keekonomian
3.8        Program UBC Di Indonesia
BAB IV
PENUTUP
4.1        Kesimpulan
DAFTAR PUSTKA

 

DAFTAR GAMBAR
 
Gambar 1        : Bagan Air Proses UBC 
Gambar 2        : Permukaan Batubara Sebelum dan Sesudah Proses Pengeringan

 

DAFTAR TABEL
 
Tabel 1            : Analisi Batubara Sebelum dan Sesudah Proses UBC
Tabel 2            : Hasil Pengujian Brikat UBC
Tabel 3            : Keekonomian UBC

 
BAB I
PENDAHULUAN
 
1.1              Latar Belakang
Cadangan batubara Indonesia diperkirakan mencapai 104,8 milyar ton (Sumber  Daya  Geologi,  2007),  hanya  sedikit  batubara  tersebut  yang  memiliki peringkat antrasit  dan bituminus yaitu  masing-masing 0,3%  dan 14,3%.  Sebagian besar batubara tersebut termasuk kedalam peringkat sub-bituminus dan lignit masing-masing 26,7% dan 58,7%. Batubara antrasit dan  bituminus  dikelompokkan sebagai batubara peringkat tinggi, sedangkan sub-bituminus dan lignit termasuk kedalam batubara peringkat rendah.
Cadangan batubara peringkat rendah saat ini belum diminati karena sulit dipasarkan, khususnya untuk ekspor hanya diperuntukkan bagi batubara peringkat tinggi  (bituminus).  Salah  satu  sifat  yang  tidak  menguntungkan  dari  batubara peringkat rendah adalah tingginya kadar air total (air bawaan dan air bebas) yang mencapai  40%.  Tingginya  kadar  air  akan  menimbulkan  masalah  dalam proses pemanfaatannya,  terutama  jika  digunakan  sebagai  bahan  bakar  langsung.  Pada proses  pembakaran,  air  bawaan  akan  mengurangi  nilai  kalor  batubara sehingga jumlah batubara yang diperlukan akan lebih besar. Kemudian gas CO2  yang ditimbulkannya akan lebih besar pula. Gas CO2  yang tinggi akan mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan dengan timbulnya efek rumah kaca  yang dapat menyebabkan pemanasan global. Selain itu, batubara peringkat rendah mempunyai kecenderungan untuk terjadinya pembakaran spontan ( spontaneous combustion).
Beberapa  teknologi  pengeringan  batubara  untuk  menurunkan  kadar  air batubara telah diperkenalkan  sejak tahun 1920-an  (Suwono, 2000). Alasan  utama proses ini adalah untuk mengurangi ongkos yang berkaitan dengan pengangkutan, menanggulangi   masalah   penanganan   dan   meningkatkan   efisiensi pembakaran batubara. Secara garis besar, proses pengeringan dibagi dalam 3 bagian, yaitu evaporasi,  pengeringan  dengan  air  panas  atau  dengan  uap  (tanpa  penguapan, dengan tekanan) dan non termal atau pirolisis (Baker et al, 1986). Dalam proses evaporasi, batubara dipanaskan baik secara langsung maupun tidak langsung (dengan menggunakan uap panas) sebelum atau selama proses penggilingan. Dengan cara ini, air bawaan mempunyai kecenderungan untuk kembali terserap oleh batubara. Metode ini dapat diterapkan jika batubara tersebut akan segera digunakan. Proses evaporasi dengan perlakuan minyak (residu) paska proses, akan membantu kestabilan kadar air bawaan karena residu akan melapisi permukaan batubara sehingga menutup pori-pori batubara tersebut (Syamsudin, 1996).
 
1.2         Rumusan Masalah
1.        Apa yang dimaksud dengan upgrading batubara?
2.        Bagaimanakah manfaat dari upgrading batubara ?
3.        Apa yang dimaksud dengan upgrading brown coal?
4.        Bagaimana proses upgrading brown coal?
 
1.3         Tujuan
1.        Mengetahui apa itu upgrading batubara.
2.        Mengetahui bagaimana manfaat upgrading batubara.
3.        Mengetahui apa upgrading brown coal.
4.        Mengetahui proses upgrading brown coal.
 

1.4         Manfaat

1.        Bagi penulis
Menambah wawasan dan informasi yang berkaitan dengan upgrading batubaraa.
2.        Bagi almamater
Menambah wawasan dan sebagai bahan referensi dalam pembuatan makalah yang selanjutnya.

BAB II
DASAR TEORI

 
2.1         Pengertian Upgrading Batubara (Coal Upgrading)
Upgrading batubara (coal upgrading): suatu proses untuk meningkatkan kualitas batubara peringkat rendah (lignit dan atau sub-bituminus) dan menghasilkan batubara yang setara dengan batubara bituminus (air rendah dan nilai kalor tinggi).
 
2.2        Manfaat Upgrading Batubara
·         Meningkatkan nilai tambah

·         Meningkatkan efisiensi pembakaran

·     Kestabilan kualitas batubara untuk industri yang telah adaKestabilan kualitas batubara untuk industri yang telah ada

·         Mengurangi biaya transportasi

·         Mengurangi emisi: CO2, SOX NOX & partikulat

·         Menjaga terjadinya degradasi (fines/dust)

 
2.3  Proses Upgrading Brown Coal
UBC (Upgrading Brown Coal) merupakan proses peningkatan nilai kalori batubara kalori rendah melalui penurunan kadar air lembab dalam batubara. Air yang terkandung dalam batubara terdiri dari air bebas (free moisture) dan air lembab (inherent moisture). Air bebas adalah air yang terikat secara mekanik dengan batubara pada permukaan dalam rekahan atau kapiler yang mempunyai tekanan uap normal. Adapun air lembab adalah air terikat secara fisik pada struktur pori-pori bagian dalam batubara dan mempunyai tekanan uap yang lebih rendah dari pada tekanan normal.
Dalam proses UBC, batubara digerus sampai berukuran < 3 mm kemudian dibuat slurry dengan menggunakan minyak tanah yang dicampur dengan minyak residu kemudian dipanaskan pada temperatur 150°c dan tekanan sekitar 3,5 atm (higehisa, et.al 2000). Batubara hasil proses dipisahkan, dikeringkan dan dibuat briket, sedangkan campuran minyak tanah dan residu digunakan kembali untuk proses selanjutnya. Penambahan minyak residu diperlukan untuk menutup pori-pori batubara yang terbuka sehingga air yang telah keluar tidak akan terserap kembali.


BAB III
PEMBAHASAN
 

3.1         Definisi Batubara dan Upgraded Brown Coal  (UBC)
Batubara merupakan energi yang cukup andal untuk menambah pasokan bahan bakar minyak mengingat cadangannya yang cukup besar. Dalam perkembangannya, batubara diharapkan dapat menjadi jembatan dari energi konvensional (terutama minyak) ke energi non-konvensional yang lebih bersih dan dapat diperbarui. Namun kualitas batubara Indonesia yang pada umumnya didominasi oleh batubara peringkat rendah (lignit), yaitu sekitar 70% dari total sumber daya, belum banyak dieksploitasi karena masih mengalami kendala dalam transportasi dan pemanfaatan. Batubara peringkat rendah ini mempunyai kandungan air total cukup tinggi sehingga nilai kalor menjadi rendah. Dengan demikian diperlukan teknologi khusus untuk memanfaatkan batubara peringkat rendah tersebut agar dapat bersaing dengan batubara peringkat tinggi yang cadangannya sudah mulai menipis.

Bertolak dari kondisi di atas, timbul pemikiran bagaimana menanggulangi tingginya kadar air dalam batubara. Apakah air lembab dalam batubara dapat di kurangi dengan hanya memanaskan batubara tersebut sehingga airnya keluar berupa uap, atau apakah pengurangan kadar air dengan cara ini bersifat permanen, artinya akan tetap stabil setelah disimpan sekian lama.

Beberapa penelitian untuk mengurangi kadar air telah dilakukan sejak tahun 1920-an di Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan lain-lain (Suwono, 2000). Salah satu di antaranya adalah teknologi Upgraded Brown Coal (UBC) yang merupakan teknologi peningkatan kualitas (upgrading) batubara peringkat rendah melalui penurunan kadar air total yang dikembangkan oleh Kobe Steel Ltd., Jepang. Keuntungan teknologi ini antara lain karena proses berlangsung pada temperatur dan tekanan rendah. Untuk mencegah masuknya kembali air ke dalam batubara, maka dalam proses ditambahkan minyak residu untuk melapisi pori-pori pada partikel batubara.

Berdasarkan penelitian proses UBC skala labratorium di Puslitbang tekMIRA (Datin, 2002) dan skala bench di Kobe Steel Ltd., Kakogawa, Jepang, (Shigehisa, 2000), beberapa batubara peringkat rendah yang berasal dari Indonesia dapat ditingkatkan kualitasnya. Dalam proses UBC, batubara dibuat slurry dengan menggunakan minyak tanah yang dicampur dengan minyak residu, kemudian dipanaskan pada temperatur 150˚C dan tekanan sekitar 3,5 atm (Deguchi,1999). Batubara hasil proses dipisahkan, dikeringkan, dan dibuat briket. Campuran minyak tanah dan residu dapat digunakan kembali untuk proses selanjutnya. Penambahan minyak residu diperlukan untuk menutup pori-pori batubara yang terbuka sehingga air yang telah keluar tidak akan terserap kembali.

 
3.2         Proses UBC (Upgrading Brown Coal)
Air yang terkandung dalam batubara terdiri atas air bebas (free moisture) dan air bawaan (inherent moisture). Air bebas adalah air yang terikat secara mekanik dengan batubara pada permukaan dalam rekahan atau kapiler yang mempunyai tekanan uap normal. Sedangkan air bawaan adalah air yang terikat secara fisik pada struktur pori-pori bagian dalam batubara dan mempunyai tekanan uap yang lebih rendah daripada tekanan normal. Kandungan air dalam batubara, baik air bebas maupun air bawaan, merupakan faktor yang merugikan karena memberikan pengaruh yang negatip terhadap proses pembakarannya.

Penurunannya kadar air dalam batubara dapat dilakukan dengan cara mekanik atau perlakuan panas. Pengeringan cara mekanik efektif untuk untuk mengurangi kadar air bebas dalam batubara basah, sedangkan penurunan kadar air bawaan harus dilakukan dengan cara pemanasan. Salah satu proses dengan cara ini adalah UBC (Upgraded brown coal) yang diperkenalkan oleh Kobe Steel Ltd., Jepang. Bagan air proses UBC (Kobelco, Ltd., 2000) dapat dilihat pada Gambar 1.

 

Gambar 1. Bagan Air Proses UBC

 
Proses UBC dilakukan pada temperatur sekitar 150˚C sehingga pengeluaran tar dari batubara belum sempurna. Untuk itu perlu ditambahkan zat aditif sebagai penutup permukaan batubara, seperti kanji, tetes tebu (mollase), slope pekat (fuse oil), dan minyak residu. Untuk proses UBC, sebagai aditif digunakan minyak residu yang merupakan senyawa organik yang beberapa sifat kimianya mempunyai kesamaan dengan batubara. Dengan kesamaan sifat kimia tersebut, minyak residu yang masuk ke dalam pori-pori batubara akan kering, kemudian bersatu dengan batubara.

Lapisan minyak ini cukup kuat dan dapat menempel pada waktu yang cukup lama sehingga batubara dapat disimpan di tempat yang terbuka untuk jangka waktu yang cukup lama (Couch, 1990). Gambar 2 menunjukan sifat permukaan batubara sebelum dan sesudah proses pengeringan.

 

Gambar 2.Permukaan Batubara Sebelum dan Sesudah Proses Pengeringan

 
Proses UBC dilakukan pada temperatur sekitar 150˚C sehingga pengeluaran tar dari batubara belum sempurna. Untuk itu perlu ditambahkan zat aditif sebagai penutup permukaan batubara, sperti kanji, tetes tebu (mollase), slope pekat (fuse oil), dan minyak residu. Untuk proses UBC, sebagai aditif digunakan minyak residu yang merupakan senyawa organik yang beberapa sifat kimianya mempunyai kesamaan dengan batubara. Dengan kesamaan sifat kimia tersebut, minyak residu yang masuk ke dalam pori-pori batubara akan kering, kemudian bersatu dengan batubara. Lapisan minyak ini cukup kuat dan dapat menempel pada waktu yang cukup lama sehingga batubara dapat disimpan di tempat terbuka untuk jangka waktu yang cukup lama (Couch, 1990). Gambar 2 menunjukkan sifat permukaan batubara sebelum dan sesudah proses pengeringan.

3.3         Pilot Plant UBC (Upgrading Brown Coal) Palimanan
Berdasarkan MoU antara pemerintah Indonesia melalui Badan Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral dengan JCOAL, Jepang yang ditandatangani pada tanggal 19 Juli 2001, telah dibangun pilot plant proses UBC di palimanan, Cirebon, dengan kapasitas 5 ton/hari. Fungsi pilot plant UBC ini adalah sebagai :

a.    Sarana Penelitian,

b.    Sarana pengujian batubara untuk perancangan pabrik skala yang lebih besar, dan

c.    Sarana pelatihan bagi operator baru untuk skala komersial.

Pilot plant UBC terdiri atas peralatan utama dan peralatan pendukung. Peralatan utama terbagi dalam lima seksi (section) utama, yaitu seksi 100 (coal preparation), seksi 200 (slurry dewatering), seksi 300 (coal-oil separation), seksi 400 (oil recovery) dan seksi 500 (briqueting). Sedangkan peralatan pendukung adalah utility dan sistem kontrol.

 
3.4         Peralatan Utama
1.      Seksi 100 ; penyiapan batubara (coal preparation)

Seksi 100 mempunyai fungsi menggerus batubara ke dalam ukuran yang diinginkan, penyimpanan batubara halus, dan penyediaan batubara halus untuk seksi 200. Batubara curah sebagai raw material digerus dengan menggunakan hammer mill melalui belt conveyor. Batubara halus hasil penggerusan berukuran lebih kecil dari 3 mm ditransfer ke coal bunker (Y101) dengan menggunakan sistem pneumatik conveyor. Coal bunker berfungsi sebagai penyimpanan sementara dan siap untuk mensuplai batubara ke seksi 200. Selanjutnya batubara halus dari coal bunker ditransfer ke seksi 200 (V202) dengan menggunakan sistem pneumatik conveyor melalui weight hopper (Y102) untuk diketahui beratnya terlebih dahulu.

2.      Seksi 200 ; penghilangan air (slurry dewatering)

Seksi 200 mempunyai fungsi membuat slurry, penghilangan kandungan air dalam batubara, dan penyediaan slurry batubara yang hilang sebagian airnya untuk seksi 300. Batubaa halus didalam V202 dicampur dengan campuran minyak tanah dan residu yang disuplai dari V201 untuk menghasilkan slurry batubara. Kemudian over flow slurry di dalam V202 ditransfer ke V203 melalui evaporator (E201) untuk dihilangkan kandungan airnya. Selanjutnya over flow slurry yang telah dihilangkan airnya di dalam V203 ditransferkan ke V204, yang berfungsi sebagai penyimpanan sementara dan siap untuk mensuplai seksi 300. Air dan sebagian minyak tanah yang teruapkan dari V203 dan sebagian kecil dari V204 akan dikondensasikan dan ditampung dalam V205 untuk dipisahkan antara minyak tanah dam air berdasarkan perbedaan berat jenisnya.

3.      Seksi 300; pemisahan batubara – minyak (coal – oil separation)

Seksi 300 mempunyai fungsi memisahkan minyak dari slurry batubara dengan menggunakan alat screw decanter. Alat ini akan memproses minyak hasil pemisahan apabila diperlukan dan penyediaan cake batubara untuk seksi 400. Slurry yang telah hilang airnya dari V204 ditransfer ke decanter (Z301) untuk memisahkan minyak tanah dari slurry dengan metode sentrifugal. Slurry yang telah dipisahkan minyak tanahnya akan berbentuk cake dan ditransfer ke seksi 400. Minyak tanah hasil proses pemisahan Z301 akan ditransfer ke V301, sebagai penyimpanan sementara. Minyak tanah di dalam V301, apabila kandungan batubaranya tinggi, sebelum ditransfer ke V201 akan diproses terlebih dahulu di dalam V302 untuk dipisahkan batubaranya. Namun jika kandungan batubaranya rendah, maka dapat langsung ditransfer ke V201.

4.      Seksi 400 ; rekoveri minyak (oil recovery)

Seksi 400 mempunyai fungsi mendapatkan batubara halus yang telah meningkat kualitasnya melalui proses recovery minyak di dalam cake batubara yang disediakan dari seksi 300 dengan menggunakan alat rotating steam tube dryer (D401). Cake dari seksi 300 disimpan didalam Y401, sebagai penyimpanan sementara. Prinsip kerja alat rotating steam tube dryer adalah batubara yang lewat dipanaskan dengan menggunakan steam yang dibantu dengan sirkulasi gas untuk membawa uap minyak yang dihasilkan. Cake dari dari Y401 ditransferkan ke rotating steam tube dryer (D401) melalui screw conveyor untuk menghilangkan minyak tanah yang masih terkandung di dalam cake. Cake yang keluar dari D401 akan berubah menjadi serbuk UBC dan ditransferkan ke dalam seksi 500 (Y501) melalui screw dan bucket conveyor.

5.      Seksi 500 ; pembuatan briket (briquetting)

Seksi 500 mempunyai fungsi membuat briket dengan menggunakan double roll briquetting machine (Z501). Serbuk UBC yang disimpan di dalam Y501 ditransfer ke dalam mesin briket (Z501) untuk dibriket melalui screw dan bucket conveyor . Briket yang dihasilkan dari Z501 disortir terlebih dahulu dengan menggunakan Z502. Briket yang disortir oleh Z502 dikirim kembali ke dalam Z501 untuk dibuat briket melalui return screw dan bucket conveyor .

 
3.5         Peralatan Pendukung
1.      Utility

Utility berfungsi untuk mendukung proes UBC, terdiri atas bioler (steam), nitrogen generator (N2), cooling water supply (CWS), instrument air (IA), dan generator set.

2.      Sistem kontrol pusat

Sistem kontrol mempunyai fungsi untuk mengontrol kegiatan pada pilot plant, baik dalam proses maupun utulity. Sistem control ini mencakup distribusi arus listrik, instrumentasi, dan sistem data.

 
3.6         Hasil Percobaan
Dari beberapa percobaan yang telah dilakukan terhadap batubara peringkat rendah Indonesia diperoleh hasil sebagaimana tercantum pada Tabel 1.

 

Tabel 1. Analisis batubara sebelum dan setelah proses UBC

 
Batubara hasil proses UBC dapat dikatakan kering jika air total sama dengan air lembab, sementara kondisi equilibrium moisture adalah kadar air setelah mencapai kesetimbangan. Kadar air lembab batubara hasil proses UBC turun secara signifikan sehingga nilai kalor menjadi naik menyamai batubara bituminous. Proses UBC tidak mengubah kandungan abu dan belereng dalam batubara tersebut. Hasil pengujian briket UBC dapat dilihat pada Tabel 2.

 

Tabel 2. Hasil pengujian briket UBC

 
Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa kuat tekan briket batubara hasil proses UBC cukup tinggi, yaitu 60,4 kg/cm2. Sementara hasil pengujian drop shutter test menunjukan, briket UBC cukup baik mengingat pecahan terbanyak didapat pada fraksi terbesar.

 
3.7         Keekonomian
Hasil studi ekonomi proses UBC skala pilot menunjukan bahwa biaya proses untuk 1 ton batubara raw adalah US$ 8.8. Untuk pembangunan pabrik UBC skala komersial dengan kapasitas produk 5000 ton/hari diperlukan biaya US $ 82 juta, dapat dilihat pada tabel 3.

 

Tabel 3. Keekonomian UBC

 
3.8        Program UBC Di Indonesia
Teknologi UBC di Indonesia dimulai dengan dibangunnya pilot plant di Palimanan, Cirebon yang telah mulai beroperasi sejak tahun 2003 dengan kapasitas 5 ton/hari. Tahun 2006 akan dibangun pabrik UBC skala demo dengan kapasitas 1.000 ton/hari yang akan mulai beroperasi tahun 2008. Skala komersial dengan kapasitas 5.000 ton/hari atau 1,7 juta ton/tahun diharapkan mulai dibangun pada tahun 2009 dan beroperasi pada tahun 2010. Pada tahun 2025 diharapkan telah ada 14 pabrik UBC skala komersial dengan kapasitas masing-masing 1,7 ton/hari sehingga pada tahun tersebut kurang lebih 24 juta ton/tahun batubara peringkat rendah Indonesia telah dapat ditingkatkan kualitasnya dan dapat diekspor untuk menambah devisa negara.

 
BAB IV
PENUTUP
 
4.1         Kesimpulan
« Upgrading batubara (coal upgrading) adalah suatu proses untuk meningkatkan kualitas batubara peringkat rendah (lignit dan atau sub-bituminus) dan menghasilkan batubara yang setara dengan batubara bituminus (air rendah dan nilai kalor tinggi).
«  Manfaat Upgrading batubara
Ø  Meningkatkan nilai tambah

Ø  Meningkatkan efisiensi pembakaran

Ø Kestabilan kualitas batubara untuk industri yang telah ada kestabilan kualitas batubara untuk industri yang telah ada

Ø  Mengurangi biaya transportasi

Ø  Mengurangi emisi: CO2, SOX NOX & partikulat

Ø  Menjaga terjadinya degradasi (fines/dust)

«  UBC (Upgrading Brown Coal) merupakan proses peningkatan nilai kalori batubara kalori rendah melalui penurunan kadar air lembab dalam batubara.

 

DAFTAR PUSTAKA
 
https://hasillitbang.tekmira.esdm.go.id/?p=800 (Dikutip Tanggal 2 Desember 2020)
https://www.academia.edu/28544293/Upgrading_Batubara (Dikutip Tanggal 2 Desember 2020)
http://mandeleyev-rapuan.blogspot.com/2012/06/peningkatan-kuaitas-batubara.html (Dikutip Tanggal 2 Desember 2020)
https://notemuza.blogspot.com/2021/01/makalah-pengantar-energi-tentang-coal.html (Dikutip Tanggal 2 Desember 2020)

No comments:

Post a Comment